Minggu, 27 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Mandai, si Kulit Cempedak

Cerpen ‘Mandai, si Kulit Cempedak’ saya tulis sekitar bulan Januari atau Februari tahun kemarin. Saat itu, di daerah saya sedang musim cempedak. Kemudian cerpen ini dimuat setahun kemudian pada bulan Februari juga. Tepat di saat musim buah cempedak kembali hadir ke bumi.
Mandai, si Kulit Cempedak
            Cerpen ini sendiri hadir karena membaca tips di Klinik Cerita di Majalah Bobo. Tipsnya berbunyi : "Untuk membuat cerita yang tak biasa, cobalah untuk berpikir sebagai seorang pembaca. Jangan hanya berperan sebagai penulis saja. Cerita tentang lingkunganmu mungkin akan kau anggap biasa-biasa saja. Misalnya, kalau kamu tinggal di Jakarta, cerita tentang kerak telor mungkin tidak menarik lagi. Tetapi, bagi pembacamu yang berasal dari luar Jakarta, cerita kerak telor bisa menjadi hal yang baru dan menarik. Selain cerita yang bertema kedaerahan, cerita tentang kebiasaan-kebiasaan unikmu bersama teman-teman dan keluarga juga bisa menjadi unik dan menarik."

            Dari tips itu saya kemudian mencari hal-hal yang unik di daerah saya sendiri. Salah satunya ya mandai. Cerita tentang mandai pernah saya ceritakan di sini.


            Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo Edisi 47, Terbit 25 Februari 2016. Happy Reading ^_^

Mandai, si Kulit Cempedak
Oleh : Hairi Yanti

“Enak sekali.” Aini berkata sambil mencomot lagi satu biji cempedak. Aida, kakak Aini, mengangguk setuju. Tante Riska membelikan mereka buah cempedak. Buah cempedak mirip dengan nangka. Buahnya lebih kecil dari nangka. Bentuk buah cempedak biasanya lonjong dan panjang.

 Aroma cempedak itu khas sekali. Cempedak disimpan Tante Riska di dalam lemari.  Waktu pulang sekolah, Aini dan Aida mencium aroma cempedak. Mereka mengendus di mana sumber wangi itu. Mereka menemukannya di lemari.

Tante Riska mengupas cempedak buat Aini dan Aida. Mereka malas mengupasnya sendiri karena getah cempedak sangat banyak.

“Sudah habis ya, Kak.” Aini mengorek ke bagian dalam cempedak. Tidak ada lagi buah cempedak di sana.

“Sudah habis, Ai. Buang kulitnya,” kata Aida.

“Lho? Kok Aini yang buang kulitnya? Kakak kan juga makan tadi?” Protes Aini dengan wajah cemberut.

“Kamu makan yang paling banyak.” Aini nyengir mendengar jawaban kakaknya. Dia pun mengambil kertas koran dan memegang kulit cempedak dengan kertas koran. Aini tidak mau tangannya kena getah cempedak. Aini sudah sampai di depan keranjang sampah.

“Aini, jangan dibuang.” Sebuah suara membuat tangan Aini terhenti. Kulit cempedak masih di tangannya.

“Kulit cempedak jangan dibuang. Itu enak dijadikan lauk.” Tante Riska mengambil kulit cempedak dari tangan Riska.

“Lauk?” Aini dan Aida berseru bersamaan. Kulit cempedak dijadikan lauk. Bagaimana bisa? Mereka berpandangan dengan wajah heran.

“Tante tunjukin caranya,” kata Tante Aida sambil melangkah ke dapur. Aini dan Aida mengikuti Tante Riska.

Di dapur, Tante Riska membentangkan Koran yang tadi digunakan Aini buat memegang kulit cempedak dan menaruh kulit cempedak di atas Koran tersebut.

“Pertama, kupas dulu kulit luarnya.” Tante Riska mulai mengupas kulit luar dari kulit cempedak. Aini dan Aida memperhatikan. Aini melihat banyak getah yang menempel di tangan Tante Riska.

“Getahnya nempel tuh di tangan Tante.” Aini menunjuk tangan Tante Riska.

“Kan bisa dihilangkan dengan minyak goreng nanti,” ujar Tante Riska sambil terus mengupas.

“Nah, sudah selesai.” Tante Riska menunjukkan hasilnya. Kulit cempedak bagian luar sudah dikupas. Tinggal bagian yang putih saja. Tante Riska kemudian mengoles minyak ke tangannya. Juga ke pisau yang tadi digunakan. Setelah itu Tante Riska membasuhnya dengan air. Kemudian Tante Riska memakai sabun tangan. Dan membilas tangannya dengan air lagi.

“Sudah bersih dan enggak ada getah kan?” Tante Riska menunjukkan tangannya. Aini dan Aida mengusap tangan tante Riska. Tidak ada lagi getah di sana.

“Selanjutnya apa, Tante?” Tante Riska membawa baskom berisi kulit cempedak yang putih. Sementara kulit luarnya sudah dibuang ke keranjang sampah.

“Ini dicuci bersih dulu,” ujar Tante Riska. Tangannya lincah mencuci kulit cempedak di bawah air mengalir.

“Setelah selesai, kulit cempedak dikasih garam sedikit.” Tante Riska menaburkan garam pada kulit cempedak.

“Sudah selesai, Tante?” Aida bertanya saat Tante Riska memasukkan kulit cempedak ke dalam wadah tertutup.

“Sudah. Besok baru bisa dimakan.” Aini dan Aida mengangguk. Mereka tak sabar menunggu besok. Mereka ingin mencicipi kulit cempedak itu.

Esoknya Tante Riska muncul di meja makan dengan tersenyum riang. Membawa sepiring sesuatu yang baru dilihat Aini dan Aida. Ada wangi cempedak yang masih tercium di sana.

“Ini kulit cempedak kemarin, Tante?” Tante Riska mengangguk.

“Namanya  mandai. Tadi Tante oseng-oseng dengan bawang iris dan cabe. Enak banget.” Tante Riska menelan ludahnya. Seperti sudah terbayang akan kelezatan mandai yang dimasaknya. Aini dan Aida pun semangat mau mencoba.

“Wah, ada mandai.” Tiba-tiba mama datang dan bergabung bersama mereka bertiga.

“Mandai ini makanan kesukaan mama. Dulu di rumah nenek di Banjarmasin mama sering makan.” Mama menjelaskan. Tante Riska juga bilang kalau mandai itu memang terkenal di Kalimantan Selatan, kampung halaman mama dan tante Riska.

“Suka enggak?” Tante Riska bertanya setelah Aini dan Aida mencicipi mandai. Sementara mama sudah makan dengan lahap. Aini dan Aida berpandangan, kemudian serentak menggeleng. Tante Riska tertawa melihatnya.

“Rasanya aneh, Tante.” Aini mengambil gelas minumnya yang berisi air putih dan meminumnya.

“Kalau enggak suka, buat mama aja.” Mama mengambil piring berisi mandai dan menaruh piring itu di depannya. Aini dan Aida kembali berpandangan, kemudian tertawa bersama. Mereka senang melihat mama makan dengan lahap.

“Mama malas membuat mandai. Getahnya itu susah dibersihin.” Aini dan Aida mengangguk-angguk. Pantas mereka merasa asing dengan makanan itu. Mama tidak pernah membuatnya.

 “Terkadang kita perlu bergetah-getah dulu untuk mendapatkan makanan yang lezat,” kata Tante Riska.

“Ah, Tante Riska benar,” kata Mama sambil menambahkan nasi lagi ke piringnya untuk kedua kali. Aini dan Aida berpandangan, kemudian terkikik geli melihat mama melupakan dietnya.

***

18 komentar:

  1. Terima kasih tipsnya mbak. Cerita berunsur lingkungan dan kedaerahan, perlu dicoba nih. Jadi punya ide buat cerita juga nih. Hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Oka. Ga perlu keliling dunia, cukup lihat di sekililing kita buat jadi ide. Ayo dicoba :D

      Hapus
  2. Baca ini jadi penasaran dengan cempedak dan mandainya. :D Kalo kulit nangka bisa dimasak juga gak, ya? Soalnya gak pernah liat cempedak. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nangka di sini juga jadi lauk, Mbak Anisa. Beda sih rasanya. Duh, jadi bikin ngiler Bumil :( maaf ya, Mbak

      Hapus
  3. Betul banget itu tipsnyaa mbaa. Buat kita cerita biasa tapi orang luar bisa bilang luar biasa ^^

    aku juga suka sama #TipsNenek di twitter majalah bobo qiqiqi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul, Mbak Shinta. Hal2 biasa buat kita bisa jadi luar biasa buat orang lain. Saya jugaa, Mbak. Suka pelototin atu2 tips nenek di twitter :D

      Hapus
  4. Saya suka cerpen..baca artikel ini jadi terkenang waktu zaman saya smp.
    yang suka nulis cerpen tapi masih
    sebatas untuk di baca sendiri.
    Duuhh majalah bobo itu majalah kesayangan saya juga...heheh...jd benar2 terkenang mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, Mbak, nulis-nulis lagi. Majalah Bobo masih terbit, Mbak. Tiap hari Kamis. Yuk, Mbak Yuniar, beli majalah Bobo kamis ini. Ada satu cerpen saya di sana :D

      Hapus
  5. membaca tips mbak serasa kembali memecut keinginan saya yangsudah terkubur lama. Sudah berapa puluh tahun pasion saya menulis fiksi anak terkubur dalam2. Hehhee maklum saya nulis cernak/dongeng sejak kelas 4 SD. Bisa dibayangkan saya vakum setelah sekolah menengah atas. Hikss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Putri.. Ayo dimulai lagi. Passionnya dihidupkan lagi, Mbak :D

      Hapus
  6. Baru tau kalau kulit bagian dalam cempedak bisa dimakan. :D terima kasih tips-nya, mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa mbak Leli. Di daerah saya kulitnya laku dijual. Hihihi...

      Hapus
  7. keren mbaakk,
    makasih tipsnya yak, nnti aku praktekin deh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Inda. Selamat praktek ;-)

      Hapus
  8. makasih ya tipsnya, jadi menambah semangat untuk menulis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2, Mbak tira. Semoga bermanfaat ya :-)

      Hapus
  9. mandai... kau bikin aku penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa mencicipinya suatu saat nanti ya, Mbak Lia :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...