Senin, 07 Maret 2016

[Cerpen Bobo] Rani Ditangkap Polisi

            Ngobrol tentang hoax di status seorang teman, saya jadi ingat sama cerpen Rani Ditangkap Polisi. Cerpen yang saya tulis pada saat gemes banget sama orang yang dengan mudahnya menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Cerita dibalik layarnya pernah saya ceritakan di sini.

            Ada beberapa perubahan dari cerpen yang saya kirimkan ini dengan yang tayang di majalah. Di cerpen yang saya kirimkan, Rani ‘diangkut’ memakai mobil patroli polisi dengan bak terbuka. Sementara di majalah, mobil patroli semacam sedan gitu kalau dari ilustrasinya. Cerpen yang diedit oleh Kakak redaksi Bobo, membuat cerpen saya lebih bagus dari aslinya. Ini naskah asli yang saya kirimkan. Happy reading ^_^
            Cerpen ini dimuat di Majalah Bobo Edisi 43, Terbit 28 Januari 2016. 
Cerpen Rani Ditangkap Polisi


Rani Ditangkap Polisi
Oleh : Hairi Yanti

Tika keluar dari gerbang sekolah. Ada Pak Polisi yang berjaga di depan sekolah. Jadi, Tika dan teman-teman bisa menyebrang dengan aman. Pak Polisi akan memberikan aba-aba kapan mulai menyebrang. Tika menunggu dengan sabar.
Saat menunggu, Tika melihat mobil patroli polisi yang lewat. Tika melihat ada seorang anak SD di atas mobil patroli. Dia duduk diapit 2 orang polisi di samping kiri dan kanannya. Mata Tika terbelalak melihatnya. Tika tidak mungkin salah mengenali orang.
“Itu kan Rani.” Tika menunjuk ke arah mobil patroli yang sudah semakin menjauh.
“Siapa Tika?” Lena, kakak kelas Tika yang ada di sampingnya melihat ke arah jari telunjuk Tika.
“Itu, Kak Lena, ada Rani. Rani ditangkap polisi. Rani sepupu Tika,” seru Tika dengan kekagetan yang masih tergambar di wajah dan suaranya. Kak Lena yang mendengarnya ikut panik. 
“Kasih tau ibu kamu, Tika,” Tika mengangguk setuju. Saat aba-aba pak polisi membolehkan Tika dan teman-teman menyebrang, Tika langsung menyebrang dengan berlari.
Di jalan, Tika bertemu dengan Echa, teman sekolahnya. Echa menjejari langkah Tika yang tergesa-gesa. 
“Kenapa jalan cepat-cepat, Tika?” Echa Nampak kepayahan mengimbangi langkah Tika.
“Aku harus segera sampai rumah, Cha. Rani, sepupuku ditangkap polisi,” kata Tika sambil berjalan.
“Apa? Rani yang punya lesung pipit itu?” Echa berseru dengan kaget. Tika mengangguk. Echa juga mengenal Rani. Kalau Rani sedang main ke rumah, mereka bertiga sering bermain bersama. 
“Kenapa Rani ditangkap polisi, Tika?” Tika menggeleng. Itu juga yang membuat Tika penasaran. Tika harus menyampaikan berita ini pada Ibu. Mereka sudah sampai di depan rumah Tika.
“Nanti kasih tahu aku kenapa Rani ditangkap polisi, ya, Ka.” Tika mengangguk dan bergegas masuk ke rumah serta memanggil ibu. Ibu yang sedang menyiapkan makan siang di dapur kaget dengan kedatangan Tika yang terlihat panik. Ibu memberikan segelas air putih agar Tika bisa tenang sebelum bercerita.
“Rani, Bu. Rani ditangkap polisi. Tika melihat Rani duduk di atas mobil polisi. Dia duduk diapit sama 2 orang polisi, Bu. Mirip para penjahat yang ditangkap seperti berita di TV.” Ibu terlihat kaget. Tapi kemudian tersenyum. Ibu meraih ponselnya dan menekan sesuatu di dalamnya.
“Ibu telpon Tante Risna dulu.” Tika mengangguk. Tak lama kemudian terlihat ibu yang berbicara dengan tante Risna. Tika gemes mendengarnya. Ibu bukannya bertanya langsung tapi membahas resep kroket tanpa kentang. Huh, kenapa sih ibu enggak langsung bertanya, Tika kan penasaran, gumam Tika dalam hati. Telinga Tika menegak saat ibu menyebut nama Rani.
“Rani sudah pulang sekolah?” Tanya ibu. 
“Tadi katanya Tika melihat Rani di atas mobil polisi,” kata ibu lagi. Tika mencoba menempel pada ponsel ibu. Ingin ikut mendengarkan. Tapi suara Tante Rani tidak terdengar jelas. Ibu Nampak ber-o ria dan mengangguk-angguk. Kemudian ibu menutup telpon dan tersenyum pada Tika yang tak sabar menanti cerita ibu.
“Rani tidak ditangkap polisi.” Tika lega mendengarnya.
“Hari ini Rani ada perlombaan membaca puisi di kantor Gubernur. Di tengah jalan, motor Bu Guru yang membawa Rani mogok. Kemudian ada mobil patrol polisi yang lewat. Salah satu polisi yang ada di mobil itu suaminya Bu Guru yang membawa Rani. Jadi, Rani dititipkan sama mobil polisi itu agar bisa sampai di sekolah saat waktu pulang sekolah.” Mulut Tika membulat dan berseru O dengan panjang sambil mengangguk-angguk.
“Kenapa juga Rani duduk dibelakang. Jadi, seperti orang ditangkap polisi,” sungut Tika. 
“Kata Tante Risna, Rani memang minta duduk di belakang. Katanya asyik.” Tika geli sendiri. Tak sabar mendengar cerita Rani tentang pengalamannya duduk di atas mobil patrol polisi. Tika juga tiba-tiba ingin duduk di belakang mobil patroli yang melaju. Tapi, bukan untuk ditangkap. Tika pun bisa dengan tenang menyantap makan siangnya. 
“Ya. Halo.” Ponsel ibu berdering lagi. Ibu segera mengucapkan halo ketika menerima telpon. 
“Eh, bukan ditangkap, Bu. Keponakan saya itu…” Tika mendongak ke arah Ibu. Ibu menjelaskan lagi tentang Rani. Seperti penjelasan ibu pada Tika. 
“Tika bilang tentang Rani sama Echa?” Tanya ibu begitu menutup telpon. Tika menepuk keningnya dan mengangguk lemah. Ponsel ibu berdering lagi. Ibu melihat ke layar ponselnya.
“Tumben Tante Ella nelpon Ibu,” gumam Ibu. Tika tahu Tante Ella adalah mama Kak Lena.
“Anu, Bu. Tadi juga Tika cerita pada Kak Lena tentang Rani,” kata Tika sambil nyengir. Dalam hati Tika berjanji, akan mencari tahu dulu apa yang terjadi baru kasih tahu orang lain. 

***



20 komentar:

  1. Cernaknya bagus mbak, buat pembelajaran. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga perlu tahu pentingnya kebenaran cerita sebelum tersebar ke masyarakat.
    Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasiiih, Mbak. Iya. Itu pelajaran dan peringatan buat saya juga supaya tidak sembarangan menyebarkan berita sebelum cek dan ricek. Salam kenal juga, Mbak :-)

      Hapus
  2. Hahaha.. Ceritanya lucu, Mbak.. Mungkin itu juga bisa terjadi kalau kita asal share berita di Media sosial, tanpa tau kebenarannya ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Elisa. Idenya dari medsos. Sebel ya orang mudah banget share link-link yang kadang udah basi beritanya dan ga benar pulak :D

      Hapus
  3. keren juga naik di mobil patroli :)

    BalasHapus
  4. dapet banget nih poinnya :).. ngajarin anak2 utk ga lgs aja nyebarin berita yg blm jelas ya mbak... :). Jangan sampe kyk org2 dewasa di kebanyakan medsos, yg lgs aja njeplak share link2 provokatif yg ga jelas -__-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Idenya dari medsos juga. Gemes saya banyak yang nyebarin berita tanpa cek dan ricek. Semoga pesan cerpennya sampai. Buat pengingat saya juga sih :D

      Hapus
  5. Balasan
    1. nunggu kouta balik, Yang. Lambreta nih buka inet #alasan :p

      Hapus
  6. kereen ih mba yan, jadi udh berapa cerpen di bobo? *kepo :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada 13, Mbak. Alhamdulillah :-)

      Hapus
  7. hehe... ternyata begitu toh ceritanya, kirain ditangkap polisi karena sesuatu hal yg buruk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan, Mbak. Kalau dulu saya karena ada teman yg ulang tahun :D

      Hapus
  8. Bisa naik mobil patroli gtu kirain bapaknya polisi :))

    Oh ya, ini pelajarn spy cari tau dulu kebenaran sblm nyebarin berita :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak April. Gerah sy orang mudah banget nge-share berita yg belum tentu benar :D

      Hapus
  9. org kalo dengar cerita heboh suka diterusin pake bumbu lagi. hsilnya ya gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar banget, Mbak Jiah. Gemes saya :-)!

      Hapus
  10. Aku ngakak wkwwkk
    Penulis itu jeli ya, nangkep ide :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiiih, Nyi. Aku kangen menangkap ide lagi. Hehehe....

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...