Selasa, 31 Mei 2016

Membangkitkan Semangat Membaca

            Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan akan kabar betapa rendahnya minat baca orang Indonesia. Berdasarkan 61 negara yang memiliki daftar literatur, kedudukan Indonesia berada di nomor 60. (Republika, 2016) Namun, kita juga bisa melihat betapa tingginya antusias para pemburu buku saat sebuah event yang bernama Big Bad Wolf diadakan di salah satu kota di Indonesia. (Nulis salah satu kota karena ragu, Jakarta atau Tanggerang sih? Tanggerang kali, ya. Xixixi…)
Timbunan Buku Siapa Ini?
            Dari antusias para serigala pemburu buku itu, mengapa minat baca Indonesia masih tergolong rendah? Apakah itu hanya euphoria sesaat atau banyak dari kita yang hanya suka menimbun buku namun berdalih tidak punya waktu untuk membaca buku? Di bagian pertanyaan kedua, saya merasa ngomong sama diri sendiri. Hiks…


            Sering sekali kita merasa ingin sekali menuntaskan sebuah buku, tapi pada kenyataannya banyak hal-hal yang menghalangi kita untuk membaca. Sibuk dan beragam alasan lainnya menjadi pembenar buat tidak membaca. Sebenarnya saya juga bukan tergolong orang yang rajin sekali membaca. Ada kala saat semangat saya meredup, ada juga saat semangat saya begitu membara untuk melahap buku-buku yang ada. Dari situ, berdasarkan pengalaman dan cerita-cerita yang saya dengar, saya coba paparkan beberapa hal yang bisa membuat kita bersemangat buat membaca atau membangkitkan semangat membaca buat orang sibuk. (Dihubung-hubungkan aja supaya pas dengan tema giveaway Teh Anne. Wkwkwk… Yuk, ikutan Giveaway for Booklovers di blognya Anne Adzkia.)

            Tips pertama, baca buku dari penulis favorit.

            Wah, kalau ini jangan tanya. Belum bukunya terbit pun saya sudah sangat menantikannya. Kalau penulis favorit, saya rela PO demi mendapatkan buku tersebut secepatnya. Salah satu penulis favorit saya adalah Orizuka. Ketika mengetahui kalau Orizuka akan merilis novel baru yang berjudul Apa Pun Selain Hujan, saya langsung PO. (Baca juga : Apa PunSelain Hujan)
Buku Favorit
Waktu bukunya datang sebenarnya udah pengiiin banget segera melahap bukunya. Sayangnya, saat itu saya lagi ada kerjaan membaca yang harus saya tuntaskan. Jadi, terpaksa ketunda dulu. Dan begitu ‘pekerjaan’ saya selesai, langsung deh say abaca dan saya bersemangat sekali membacanya.

Buku-buku dari penulis kesayangan biasanya tipikal buku yang pengin segera saya tuntaskan membacanya karena penasaran dan terbawa arus cerita, tapi di satu sisi juga tidak ingin cerita cepat-cepat berakhir karena enggan berpisah dengan ceritanya. Kesimpulannya, ya, itu, temukan penulis favorit kamu, buru karyanya dan ayo membaca.

Kedua, bikin target.

Target di sini bisa jangka panjang dalam artian target tahunan. Dari target tahunan, bisa kita bagi lagi menjadi target bulanan, mingguan, dan harian. Misalkan saya punya target membaca 60 buku dalam setahun. Jika dibagi dalam 12 bulan, maka ada 5 buku yang harus saya baca dalam sebulan. Dibagi lagi 30 hari, maka satu buku harusnya selesai dalam 6 hari. Jadi, tidak terkejar-kejar sendirian saat akhir tahun.

Jangan silau dengan target orang lain. Cari target membaca yang sekira kita bisa laksanakan asal bisa membaca. Misalkan, 2 buku dalam sebulan. Atau berdasarkan target waktu, 15 menit membaca setiap hari, bisa juga 2 bab per hari. Kita yang paling tahu bagaimana kondisi kita sendiri, jadi, kita lah yang memutuskan target kita sendiri.

Ketiga, mematuhi target.

Ini sih saya akui kalau lebih susah dari yang pertama. Kita bisa saja merancang target setinggi langit. Untuk mematuhinya tentu harus ada komitmen yang kuat dari diri kita sendiri. Cara mematuhi target ini bisa juga target kita (pada poin kedua) disampaikan pada orang lain atau tuliskan jadi status di media sosial dan postingan di blog. Jadi, ketika ada yang tanya atau mengingatkan, malu, dong, tidak sesuai target. Wkwkwk….

Seperti saya nih yang malu menargetkan 60 buku dalam setahun. Sewaktu cek di goodreads, eaaaa, baru 12 buku yang tercatat di sana yang sudah saya baca. Untunglah saya bisa ngeles dengan bilang, ada beberapa buku yang sudah saya baca dan belum saya masukkan ke Goodreads. Wkwkwkwk… Buku pinjam di Ijak, buku genre anak pulak. Tapiii… Sama aja, kan, kalau itu buku? Hihihihi….

Keempat, berada dalam atmosfer membaca.

Sama halnya dengan menulis, membaca pun juga begitu. Berada di tengah-tengah teman yang suka membaca membuat kita juga lebih bersemangat buat membaca. Seperti halnya berteman dengan minyak wangi, kita akan tertular juga wanginya, bergaul dengan maniak buku juga bisa ketularan semangatnya.

Saya sendiri punya akun di Goodreads, di sana bisa melihat perkembangan bacaan teman-teman. Saya kalah jauh, lah. Tapi juga terkadang bisa menyengat semangat. Selain itu saya juga bergabung dengan grup Blogger Buku Indonesia untuk blog buku saya DiaryBukuYanti. Teman-teman di komunitas penulis juga pada rajin membaca. Semoga saja saya ikut tertular semangat teman-teman, bukan semangat menimbun buku saja tapi juga membacanya.

Kelima, mencari sisi menarik sebuah buku.

Saya suka membaca resensi buku, saya juga punya teman-teman yang suka memberikan testimoni mereka pada buku yang sudah atau baru dibaca. Dengan membaca resensi atau mengetahui sisi menarik sebuah buku, itu bisa memacu semangat saya untuk membaca.

Pernah juga di saat saya sudah bosan membaca sebuah buku, saya juga akan mencoba mencari resensi buku tersebut. Mencoba mencari sisi menarik sebuah buku sehingga bisa bersemangat lagi buat menuntaskan buku tersebut.

Kalau ternyata buku yang kita cari tahu itu tidak menarik, pilihan ada di tangan kita, untuk terus membaca atau meninggalkannya. Tapiiii…. Jika terus membaca, kita akan tahu benar atau tidaknya testimoni atau ulasan orang-orang terhadap buku tersebut sehingga memunculkan opini kita sendiri.

Keenam, menepis penghalang membaca.

Ini yang disingkirkan penghalang yang harusnya disingkirkan. Bukan berarti semisal, seorang istri yang ngeles enggak mau nyuci baju dengan alasan sibuk membaca. Wkwkwkwk…. Tapi penghalang seperti media sosial, games, atau drama korea.

Media sosial itu sepertinya hal yang perlu kita kalahkan agar bisa banyak membaca. Sering kali kita (Kita? Loe aja kali, Yan :p) suka terlena dengan membaca status di facebook, kicauan di twitter, chat di grup What’s App / telegram atau nengok foto di instagram. Singkirkan dulu semuanya di waktu kita ingin membaca, dengan begitu target membaca kita bisa tercapai.
Baca buku apa, neng?
Ketujuh, meminjam atau menyewa buku.

Kalau buku sendiri seringnya kita memakai alasan ‘nanti-nanti saja’ saat membaca. Nah, lain hal saat kita meminjam apalagi menyewa buku. Kalau menyewa, kita merasa rugi kalau tidak tuntas membacanya. Begitu pun dengan meminjam, udah dapat gratis kok enggak dibaca. Betul, kan? Eh, enggak ya?#TepokJidat.

Hal ini juga berlaku untuk peminjaman buku online lewat aplikasi Ijak. (Baca Juga : IjakPerpustakaan Digital). Doronglah sisi perhitungan dalam diri kita, udah download buku sekian MB, kok enggak dibaca? Jika dorongan perhitungan ini muncul, bisa jadi akan membuat kita giat membaca. Sehingga satu buku bisa tuntas dibaca dalam 3 hari saja!

Kedelapan, mencari pendorong atau motivasi membaca.

Kembali ke niat, begitu bahasa sederhananya. Apa sih hal yang membuat kita harus membaca sebuah buku? Karena ingin mendapatkan ilmu, ingin mengisi blog dengan review atau resensi buku, atau hanya tersebab kita senang berpetualang dalam dunia kata-kata. Cari dan kembalikan motivasi kita itu agar semangat membaca kita kembali menyala.

Di antara keinginan menuntaskan sebuah buku buat sebagian orang bisa juga agar bisa meresensi dan mengirimkannya ke media. Maka, bayangkanlah betapa bahagianya saat resensi dimuat, atau honor diterima, atau juga saat menerima reward dari penerbit yang bukunya kita resensi.

Kesembilan, ciptakan rasa bersalah melihat timbunan buku.

Ahahaha… Ini nih PR saya banget. Menciptakan rasa bersalah karena terlalu banyak menimbun buku. Rasa bersalah itu bisa membuat saya ingin menuntaskan buku-buku yang ada. Walaupun tetap sih membeli bukunya juga jalan terus -_-

Salah satu cara yang pernah dipaparkan teman-teman saya mungkin juga bisa ditiru, semisal ada aturan baca 5, beli 1. Jadi, kalau sudah membaca tuntas 5 buku, baru boleh beli satu buku. Ini bisa memangkas timbunan buku buat para penimbun buku. Namun, seringnya cara ini bisa tumbang jika kita lemah karena ada diskon buku di depan mata dan ada buku penulis favorit yang baru rilis. Kyaaaaa….. Yanti curcooool…. :p

Kesepuluh, mencari deadline yang mengikat.

Deadline yang mengikat adalah deadline menuntaskan sebuah buku yang bukan berasal dari diri kita sendiri tapi dari orang lain. Contohnya saat kita menerima ‘pekerjaan’ meresensi sebuah buku, maka, mau tidak mau kita harus tuntas membaca buku yang diamanahkan kepada kita.

Atau ada lomba, apalagi yang hadiahnya jutaan. Sementara kita sudah punya bukunya. Kok, sayang banget kalau tidak ikutan. Jadi, dengan menargetkan ikut lomba resensi buku juga akan membuat kita bersemangat dalam membaca.

Kesebelas, mulailah membaca.

Sesungguhnya membaca tips-tips membuat semangat membaca ala ala Yanti sampai 10 poin di atas, tidak akan berguna jika tidak memulai untuk membaca. Pendorong semangat paling utama adalah diri kita sendiri. Singkirkan rasa malas, mulailah terjun untuk berenang dalam dunia kata-kata, dan temukan manfaat dalam membaca. Jika ada keinginan dan tekad untuk membaca, maka akan ada 1001 cara yang membuat kita membaca. Jika keinginan membaca hanya di angan-angan, maka akan ada 1001 alasan yang membuat kita tidak membaca.

Selamat membaca semuaaa….. Buku apa yang dibaca saat ini?

            

30 komentar:

  1. Saya ini sedang membaca buku laporan keuangan kekekeke... #akhirbulan :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixixi... Tapi di Ijak tetap dibaca kan, Kak? :D

      Hapus
  2. Mba Yanti, aku juga penimbun buku. kalau bukunya belum kebaca, belum berani aku buka dari plastiknya. Biar keliatan selalu bau. Dan aku taruh di rak khusus. HIhih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sebagian dibuka plastinya, Mbak. Menghirup aromanya. Hehehe...

      Hapus
  3. hellow mbak Yanti :). Lama tak bersua. Blognya makin kece euy ;)

    salam kangen -Raya-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak Raya... Iya ya lama ga bersua setelah saya pindah kompleks ngeblog. Salam kangen jugaaaa :D

      Hapus
  4. Selama ini saya ga ada target euy mba :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya selalu ada target, Mbak. Tapi sering ga tercapai. Ihiks :D

      Hapus
  5. Yanti seperti sedang ngomong langsung sama aku nih. Tipsnya jlebb banget. Makasih ya Yan udah ikutan GAnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha... Ini ngomong sama diri sendiri padahal, Teh :D

      Hapus
  6. ckckckckk kereen tips-tipsnyaaa...

    BalasHapus
  7. hahahaaa bener ya 10 tipsnya ok banget, percuma kalo ga di praktekkan.
    Aku gairah banget kalo membaca pas lagi galow maak xixix
    Rajiin bangeet, beberapa buku langsung abiis n tamat bacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun sering begitu, Mbak. Kadang kalau semangat menggebu2 berasa kurang bukunya. Padahal timbunan setumpum. Hehehee...

      Hapus
  8. Setuju mba minat baca saya pribadi muncul dari penulis favorit, bukunya mahal juga saya jabanin lalu plong setelah menyelesaikan 1 hari full hahaha dan tentunya diiringi niat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sama. Ditunggu2 malah terbitnya ya. Rela PO juga biar bisa baca paling awal :D

      Hapus
  9. saya gak perlu ditargetin, seminggu bisa kelar baca 3 buku yg masing2 600 hlm minimal. tapi itu fiksi, kalo non fiksi yaampun sebulan pun belum tentu kelar yg 300 hlm padahal :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow... Kereeen, Mbak. Saya fiksi pun kadang susah namatinnya. Apalagi nonfiksi :(

      Hapus
  10. Komplit bangat tips nya mbak. Jadi termotivasi untuk membaca. Target membaca ku tahun ini nga muluk-muluk sekitar 12 buku setahun wkwkwkwk, rendah bangat yach tapi buku yang sudah dibeli ada kali 6 buku. Hehehe pr nya jadi banyak dong yach.

    Salam kenal yach mbak dan semoga menang giveaway nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Mbak. Gpp, Mbak. Satu buku sebulan juga udah kece. Lah saya beli buku mulu, bacanya ga serajin waktu membelinya. Hihihi

      Hapus
  11. Aih, saya juga penimbun buku, Mbak. Itu merasa bersalah banget lo, karena ternyata ada yang udah tahunan saya beli tapi ngga dibaca2. Saya impulsive sih, sering tergoda iklan di socmed, dengan nama2 terkenal, terus baca setengah ditinggalin. Tapi sekarang sebisa mungkin baca review dulu sebelum beli.
    Ngga bisa dipungkiri sih, yang bikin minat baca turun itu gadget. Tapi sampai hari ini saya belum doyan e-book sih, masih bahagian dengan wangi buku yang baru dibeli xD
    Aku udah baca buku dari bisa membaca, tapi selalu fiksi sih, itu kalo udah dimulai ngga bisa berhenti. Hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau seru emang ga bisa berhenti, Mbak. Tapi kalau ngebosanin ya susah banget kan ya namatinnya. Itu yg sering bikin numpuk deh buku yg belum selesai dibaca. Iya, Mbak. Saya sekarang juga selektif banget beli buku. Maklum harga buku semakin mahal. Tapi kadang khilaf juga. Hehhee..

      Hapus
  12. #teringat koleksi novel yang masi bersampul plastik
    dan jumlahnya banyakan aaakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaaaa... Banyak juga. Heuheu...

      Hapus
  13. Semangat bacaku sedang di titik nadir :((

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo bangkitkan lagi Mak Lusi :-)

      Hapus
  14. kalau surve yang dimaksud adalah membaca buku yang benar-benar buku mungkin bisa iya, tapi minat baca di Indonesia tinggi, seperti yang dibilang, baca status orang, kalo saya sendiri lebih suka baca-baca lewat wattpad atau baca artikel, kalau buku, agak susah, karena mobile dan nggak mungkin bawa buku2 terus, kan ada kindle juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca status di medsos ga termasuk hitungan sepertinya ya. Iya. Sekarang banyak fasilitas mobile. Seperti Ijak juga.

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...