Senin, 16 Mei 2016

Apa Pun Selain Hujan

Rasanya saya tidak bisa menunda menuliskan ini. Menulis tentang kesan-kesan saya terhadap sebuah novel dari karya salah satu penulis favorit saya, Orizuka. Judulnya Apa Pun Selain Hujan, terbitan Gagas Media di tahun 2016. Baru banget terbitnya. Orizuka nyaris tidak pernah mengecewakan saya, setiap karyanya nyaris selalu saya suka. Memakai kata nyaris karena ada satu, dua atau lebih karyanya yang saya rasa biasa saja. Tapi, sebagian besar dari karya Orizuka yang saya baca, selalu menyedot perhatian saya dan menarik.
Apa Pun Selain Hujan
Seperti yang saya bilang dulu dan yang sudah-sudah, tingkat kebaperan saya saat membaca karya fiksi berbanding lurus dengan tingkat kesukaan saya pada karya fiI ksi tersebut. Dan saya baper, baper sebaper-bapernya semenjak prolog yang membuat emosi tersedot dalam ceritanya sampai epilog yang membuat saya enggan berpisah dengan ceritanya. Novel ini tipe novel yang bikin penasaran sama ceritanya hingga ingin segera menuju ending tapi setelah ending juga merasa tak ingin berpisah dengan ceritanya. Jadi, gimana dong?




Prolog novel ini begitu menghentak. Tentang pertandingan taekwondo yang mempertemukan dua sahabat, Wira dan Faiz. Di ujung pertandingan, Wira menendang kepala Faiz, Wira merayakan kemenangannya, begitu pun Nadine di bangku penonton. Hanya sesaat, karena setelahnya ada kejadian yang mengubah hidup Wira dan menghentikan hidup Faiz. Faiz tak bergerak dan tak pernah bergerak lagi dalam pertandingan terakhirnya melawan Wira. Ketika Wira dan Nadine berlari mengantar tubuh Faiz memasuki ambulance, hujan turun dengan deras. Sejak saat itu, Wira tak lagi menyukai hujan.

Wira pun merasa terhakimi oleh orang-orang di sekitarnya. Merasa kalau orang-orang menuduhnya sebagai pembunuh. Terlebih ia tak bisa melepaskan ingatan saat penuh emosi ibunya Faiz berkata padanya, “Kembalikan Faiz.”

Wira lari, ia memutuskan menjauh dari dunia yang selama ini menemaninya. Ia pindah ke Malang, tinggal bersama neneknya, kuliah di Teknik Sipil Universitas Brawijaya, meninggalkan taekwondo, tidak membuka diri terhadap teman-teman baru masuk ke hidupnya, dan membenci hujan.

Sampai pada suatu ketika, Wira menemukan sebuah kardus yang bergerak-gerak, membukanya dan menemukan seekor kucing. Langkah selanjutnya mempertemukannya dengan seorang mahasiswi Kedokteran Hewan yang ternyata juga seorang taekwondoin bernama Kayla. Kucing yang kemudian dinamakan Sarang, dan gadis manis bernama Kayla itu kemudian membuat hidup Wira tak lagi sama.

***

Saya suka sekali novel ini, menyukainya dengan sangat. Sama dengan Mbak Dhani, saya menyukai setiap hal yang hadir di novel ini. Pada karakter yang menempel pada tokoh-tokohnya, pada alurnya, pada dunia Teknik Sipil yang menjadi latarnya, pada cameo yang membuat jalan cerita lebih berwarna, juga pada kebaperan yang saya rasakan teramat sangat menyengat saat membacanya.

Karakter tokoh Orizuka selalu bukan karakter yang sempurna. Kalau dulu, Orizuka kerap membuat karakter cewek yang biasa-biasa saja, kali ini Orizuka membuat karakter cowok yang biasa saja. Wira memang pemegang sabuk hitam di taekwondo. Tapi, Wira adalah cowok pasif, tidak agresif, pemurung, penyendiri, dan penakut terhadap hantu. Walaupun begitu, saat bertemu seseorang yang membuatnya nyaman, Wira bisa berubah juga. Bisa mengobrol banyak dan bercanda. 

Sementara karakter Kayla justru sebaliknya. Kayla adalah seorang cewek yang agresif, yang kadang sering blak-blakan menjawab pertanyaan-pertanyaan Wira. Namun, Kayla tetaplah cewek yang sentimental. Saya gemes sendiri melihat Kayla yang ‘menyerang’ Wira dengan ‘kode-kode’ tapi Wira selalu menganggap kode itu sebagai candaan. Ahahaha…

Selain kedua karakter utama, saya juga suka karakter-karakter pendukung di novel ini. Karakter Uti, Attar yang akhirnya mendapat simpati saya saat malam di Batu Night Spectacular, juga teman-teman Wira di Teknik Sipil.

Ah ya, Wira kuliah di Teknik Sipil dan interaksi Wira dengan teman-temannya seketika membuat ingatan saya melayang ke kampus saya dulu. Anak-anak teknik sipil itu pertemanan mereka hangat dan menyenangkan. Saat Wira memutuskan menyendiri dan menjauh dari teman-temannya, teman-temannya tidak pernah memusuhi Wira. Mereka terus menganggap Wira sebagai teman.

Celutukan-celutukan mereka kerap membuat saya tergelak dan itu serasa nyata karena celutukan serupa memang kerap saya temukan saat di kampus dulu. Seperti saat mereka meminta Ramdhan mengajak Wira untuk shalat berjamaah dan ke pengajian. Ahaha… Yang paling membuat saya tergelak adalah saat senior Wira menyodorkan kelingkingnya pada Wira dan berkata “Janji?” Wkwkwkwk…. Ngakak deh :D

Cameo yang hadir di novel ini pun terasa pas sekali kehadiran. Seperti sepeda mini berwarna pink milik Kayla, kucing kecil yang bernama Sarang, juga Eko dan Handoko, penghuni tetap teras sekretariat bersama UKM.

Konflik utamanya juga dibuat menggigit, bikin baper tapi tetap menyenangkan buat membacanya. Orizuka kembali menulis cerita yang bukan biasa-biasa saja. Orizuka menghadirkan lagi betapa peran keluarga begitu penting bagi tumbuh kembang anak-anak remaja, segala penyelesaian tidak disandarkan hanya pada sebuah perasaan yang tumbuh di sepasang anak remaja, tapi ada pada keluarga. Dan saya suka sekali hal itu.

Hubungan Kayla dan Wira pun terasa santun dibanding novel-novel sejenis. Tidak ada kontak fisik gituan seperti di film AADC 2. (((GITUAN))) Wakakaka…. Bahkan antara Kayla dan Wira tidak ada terucap kata-kata cinta dan sayang, namun, saya yakin pembaca bisa merasakan apa yang mereka berdua rasakan seperti orang-orang di sekitarnya juga begitu. Ini seperti lagu-lagu Jikustik ya, tidak ada kata cinta dalam liriknya tapi kita tau lah kalau itu lagu-lagu romantis.

Sekilas ini serupa dengan novel karya Orizuka lainnya yang berjudul Summer Breeze. Ada tiga sahabat, peran orangtua, saling menjauh, saling menyendiri, dan lain halnya. Tapi, saya lebih menyukai Apa pun Selain Hujan. Menurut saya, Orizuka semakin matang dalam caranya bercerita. 

Dalam kata pengantarnya, Orizuka mengemukakan ide-ide yang berserakan dari hal-hal yang disukainya yang kemudian membuat ia menulis novel ini. Tentang Batu dan Malang, kucing, taekwondo, chapter “Everything but The Rain”, yang kemudian dia gabungkan semuanya dalam satu novel yang menarik dan manis ini. Ah, sungguh saya iri. Saya pun punya banyak hal yang saya sukai yang ingin saya tayangkan dalam sebuah novel namun tak kunjung terealisasi. Heuheu… Baiklah, saya mellow dulu sambil terbaper-baper membaca ulang beberapa scene di novel ini sembari bertanya, ‘Kapan kamu nulis novel juga, Yantiiiii?’
               


16 komentar:

  1. Keren sekali mbak tulisannya, sepertinya okeh juga nih jadi penulis, hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, belum, Mbak. Saya masih harus belajar buat jadi penulis. Hehehee....

      Hapus
  2. huhuhu... jadi ingat cerita sabeum taekwondo(jaman smu dulu) ada yang tewas saat fight. Mirip sama kisah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ada kejadian gitu ya? Jangan2 ini terinspirasi dari kejadian nyata ya...

      Hapus
  3. Aku selalu kagum sama mereka yang bisa bikin cerita fiksi :' karena sampai sekarang, aku belum begitu bisa nulis begitu :'

    Duuuh, penasaran kan sama novelnya :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya pun kagum dengan mereka yang bisa nulis novel. Panjang tapi ga berantakan :D

      Hapus
  4. Jadi penasaran nih Mbak. Kelihatannya memang bagus. Saya juga suka karakter yang biasa (tidak sempurna). Aneh rasanya mengetahui ada orang yg sempurna, kaya, baik, ganteng, tajir, pokoknya paket komplit deh.
    Kayla itu masih punya hubungan apa dengan Faiz? #eh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga ada, Mbak. Faiz temannya Wira saat SMA. Kayla teman saat kuliah. Iya, MBak. Dan Orizuka ini selalu karakternya dibikin biasa2 aja. Cantiknya seadanya aja. Ga tajir. Juga ada kekurangannya.

      Hapus
  5. Iya, kapan mulai nulis novel juga? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakakaa... Novel anak kan sudah, Ki :p

      Hapus
  6. karakter yg biasa2 aja justru jadi lebih dekat ke pembaca ya mba, menurutku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak Kania. Merasa senasib. hehhee...

      Hapus
  7. dan resensi mba yanti, membuat saya ingin membacanya.
    penasaraaan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha.... Mbak Titiin... Ayo dibaca. Bagus lhoo :D

      Hapus
  8. Baca resensi buku itu jadi pengen ikut membacanya.

    Semoga terwujud ya, novelnya mba Yanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiiin... Makasiiih, Mbak Rochma :D

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...