Minggu, 22 Januari 2017

Mengenal Monda Siregar dan Blog Candu Raun

            Merantau. Satu kata yang membuat kita punya banyak pengalaman dan pengetahuan baru tentang daerah tempat di mana kita berada. Bumi ini luas, ada banyak hal berbeda yang akan kita temui di daerah baru yang kita tempati.


            Pengalaman merantau dari seorang blogger bernama Monda Siregar bisa dibilang banyak. Sejak kecil, Mbak Monda selalu berpindah tempat mengikuti tugas orangtua beliau, merantau di beberapa provinsi di empat pulau besar di Indonesia.


            Salah satu pulau besar di Indonesia itu adalah Kalimantan. Mbak Monda pernah juga merantau di pulau tersebut bersama keluarganya. Yang mengejutkan, beliau tinggalnya di Kalimantan Timur, provinsi yang saya tempati sekarang. Pengalaman merantau sering diceritakan Mbak Monda di blog beliau yang ber-tagline Candu Raun.

            Candu Raun adalah blog gado-gado yang berisi tentang apa saja yang menjadi minat pemiliknya yaitu Mbak Monda Siregar, seperti segala cerita yang beliau temukan saat berwisata baik di dalam mau pun di luar kota. Blog Mbak Monda bisa disebutkan ini blog lifestyle dengan titik berat  terutama tentang Indonesia, tempat wisatanya, sejarahnya, wisata kulinernya, musiknya, wastra, atau kebudayaan.

            Menemukan cerita awal mula Mbak Monda ngeblog, seperti bercermin pada cerita ngeblog saya. Mbak Monda ngeblog pertama kali pada tahun 2009, sama dengan saya yang mulai rutin ngeblog pada tahun 2009 juga. Waktu itu beliau ngeblog di blogspot, galau karena tak ada komentar yang masuk dan melihat di wordpress banyak komentar, beliau pun hijrah ke wordpress. Ini persis saya dulu, bedanya saya migrasinya ke Multiply. Hehehe….

            Di blog Candu Raun, Mbak Monda jarang bercerita tentang kehidupan keluarga sehari-hari. Hal itu telah beliau perbincangkan dengan suami untuk tidak terlalu terbuka di dunia maya, tidak terlalu banyak cerita kehidupan anak-anak, tidak menyebut kegiatan dan nama sekolahnya, dan banyak hal lagi. Anak-anak Mbak Monda pun hanya disebut Kakak dan Adek, tidak menyebut nama mereka.

Setelah anak-anak beliau remaja dan bisa memberikan pendapat, memang seperti itulah keinginan anak-anak Mbak Monda. Ketika ditanyakan saran untuk blog emaknya, sang anak menjawab “Jangan cerita dan pasang foto aku, kalau teman-temanku baca nanti aku malu.”

Kembali tentang pengalaman merantau Mbak Monda yang beliau ceritakan di blog, sebagai seseorang yang tinggal di Kalimantan Timur jadi tertarik membaca cerita tentang pengalaman beliau tinggal di sana. Menurut Mbak Monda ketika hijrah ke Kalimantan Timur beliau tidak terlalu banyak mengalami kesulitan pada bahasa yang digunakan. Karena bahasa yang digunakan sehari-hari tidak jauh berbeda dengan bahasa nasional, hanya ada kata-kata imbuhan tertentu yang membedakan, juga beberapa kata yang berasal dari bahasa Banjar.

Jajanan di Balikpapan pun punya arti tersendiri buat Mbak Monda dan beliau nobatkan sebagai jajanan favorit masa kecil. Salah satunya yang menjadi jajanan favorit beliau adalah pisang goreng sambal terasi.

Pada postingannya Mbak Monda menyebut kalau pisang goreng di Balikpapan dinamakan sanggar, yang merupakan kependekan dari Pisang Goreng. Walaupun familiar dengan nama sanggar, saya baru tau kalau sanggar adalah kependekan dari Pisang Goreng. Ketika saya tanyakan ke suami yang lahir dan tumbuh di Balikpapan, beliau bilang memang Sanggar itu kependekan dari Pisang Goreng.

“Tapi, kan, sanggar. A bukan O. A-nya dapat di mana?” Sang istri masih ngebahas. Maklumlah istrinya lebih sering menyebut gaguduh untuk panggilan pisang goreng.

“Pisang goreng garing. Jadi, namanya sanggar,” jawab suami kemudian yang membuat saya tertawa dan mengiyakan saja bahwa sanggar berasar dari kependekan pisang goreng garing. Hihihi…. Oya, Mbak Monda menyebut kalau pisang goreng yang menjadi favotir beliau itu dicocol dengan sambal terasi. Pernah mencoba pisang goreng dicocol dengan sambal terasi?
 
Mbak Monda dengan mesin jahit yang menjahit bendera pusaka
Itulah sekelumit kisah tentang Mbak Monda Siregar. Masih banyak cerita-cerita beliau yang bisa kita temukan di blog Candu Raun, di mana Mbak Monda ‘Berbagi Kisah’ di dalamnya.


3 komentar:

  1. Sanggar, kalo di tempatku sanggar sei, sanggar tari gitu hehe. Ternyata pisang goreng, langsung meluncur ah :)

    BalasHapus
  2. terima kasih mbak Yanti...
    ya .. sanggar itu enak banget he.. he..., beda nama ya dengan di Banjar..
    jangan2 memang asalnya dari sanggara (Bugis) seperti kata temanmu itu

    BalasHapus
  3. Nggak menyebut nama sekolah anak memang ada baiknya juga ya, untuk waspada 😊 Selebihnya memang privacy masing2 ayah ibu untuk menceritakan atau enggak secara detail ttg anak. Ketika mereka memilih ga bercerita atau berfoto untuk socmed, ya harus dihormati 😊

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...