Rabu, 22 November 2017

Qiya dan Risha, si Detektif Cilik. Buku Solo Pertama

Tadinya saya pikir, tak akan terlalu sulit untuk menulis novel anak. Novel dengan genre untuk anak-anak. Saya sudah pernah menulis beberapa cerpen (meski susah payah) dan sekian dari beberapa itu lolos seleksi redaksi sebuah majalah. Jadiiii.... dengan berbekal pengalaman itu, mungkin mudah saja bagi saya untuk menulis yang lebih panjang dari cerpen yaitu novel. 

Maka, ketika saya mengikuti kelas Permen (Kelas Program Menulis Novel Anak) bersama Uni Dian Onasis, saya pikir saya tak akan menemui banyak kendala. Novel akan saya selesaikan dengan baik, kirim ke penerbit, diterima dan diterbitkan. 


Kenyataannya? Seperti seorang pebulutangkis yang terjun ke sebuah turnaman dan kalah di babak kualifikasi dengan skor telak, begitulah yang terjadi pada saya. Ide yang saya ajukan ke Uni Dian saat itu ditolak oleh Uni.

"Yanti akan kepayahan menyelesaikannya menjadi cerita panjang. Ini ide buat cerpen." Begitulah kira-kira tanggapan Uni Dian saat itu. 

Dan saya blank. Tidak tahu lagi harus mencari ide apa. Rasanya setiap ide yang saya susah payah dapatkan lagi dan lagi hanya cocok untuk sebuah cerita pendek. Di situ saya sadar bahwa menulis cerpen dan novel itu beda sekali. 

Saya mulai kepayahan dan seperti biasa, saya ingin menyerah. Waktu terus berjalan, sementara ide tak kunjung saya dapatkan. Karena tidak ingin membebani pikiran saya dengan hal yang merumitkan dan kembali ke prinsip awal di mana bagi saya menulis itu fun. Menulis itu untuk bahagia. Jika saya stress... oh itu bukan tujuan saya menulis. Kemudian saya ajukan pengunduruan diri dari kelas Permen kepada Uni Dian. Jawaban Uni "TIDAK" 

Uni Dian tidak mengizinkan saya mundur. Saya semakin tertekan dibuatnya. Di saat yang sama Mbak Ade Anita yang satu kelas dengan saya juga memberikan semangat. Uni Dian juga begitu. Saya pun curhat panjang lebar kepada suami. 

"Dalam pekerjaan juga ada kalanya begitu. Blank dan bingung mau ngerjain apa. Tapi pelan-pelan menyelesaikannya sambil belajar. Tidak menyerah begitu saja," ujar suami kala itu. 

Saya tertegun mendengarnya. Oh.... betapa saya begitu mudah menyerah. 

"Kesulitannya di mana? Ayo dimulai lagi." Suami kembali memberikan semangat. 

"Pengin menulis cerita misteri. Tapi tidak punya bahan," keluh saya pada suami. 

Kemudian beliau yang mencarikan bahan untuk saya. Ketika bahan sudah didapatkan, maka saya yang mencari bumbu-bumbu dan memutuskan bahan itu 'dimasak' seperti apa. Karena itulah ada ucapan Terima Kasih khusus buat suami di lembar persembahan karena peran beliau sangat besar di buku ini.

Dari bahan yang diberikan oleh suami, juga dibantu oleh Uni Dian, saya menyelesaikan bab demi bab calon buku saya itu hingga kemudian selesai. Uni Dian juga banyak memberikan masukan dan menambal beberapa hal yang 'bolong' di naskah saya. 

Naskah saya ini mengendap lama di laptop. Lagi-lagi saya begitu malasnya mengirimkan ke penerbit. Sampai suatu ketika, Lintang Indiva mencari naskah bertema misteri, tentu saja saya merasa naskah ini sangat cocok dengan yang dicari Lintang Indiva. Sekitar 2 atau 3 bulan setelah saya kirimkan, saya mendapat kabar naskah ini diterima. Alhamdulillah... senang sekali rasanya. SPP (Surat Perjanjian Penerbitan) dikirimkan dan beberapa bulan kemudian buku ini pun terbit. 

Buku solo pertama saya. Alhamdulillah... Setidaknya sudah memenuhi impian saya menerbitkan minimal satu buku seumur hidup. Walaupun saya ingin ada karya kedua, ketiga, dan seterusnya. Aamiin...
Qiya dan Risha di Gramedia Lippo Sidoarjo
Foto dari Mbak Shabrina WS

Buku ini juga bisa dibeli di Gramedia. Setiap saya ke Gramedia, dan melewati rak-rak buku di sana, sering saya berujar dalam hati, suatu hari akan ada buku saya di sana. Beberapa pekan yang lalu saya ke Gramedia, jantung saya berdetak tak karuan saat menuju rak buku anak. Berdebar-debar dan bergemuruh, dan rasanya 'nyessss' begitu menemukan ada buku saya di rak buku tersebut. Huhuhu.... Semacam mimpi yang menjadi nyata. 
Qiya dan Risha, si Detektif Cilik di Gramedia Balikpapan

Menulis itu fun, harus happy dan bahagia. Saya setuju, sangat setuju. Tapi, kadang kita memang perlu tekanan agar tahu sampai batas mana kita bisa berkarya. Itulah pelajaran penting yang saya dapat dibalik proses novel ini. Jika saya menyerah, kalau saya menyanggah jawaban 'Tidak' yang diberikan Uni Dian, mungkin sampai sekarang saya tak memiliki buku solo.
***

Judul               : Qiya dan Risha Si Detektif Cilik
Penulis            : Hairi Yanti
ISBN                : 978-602-6334-21-3
Harga              : 35K

Sinopsis :

Qiya mendengar pembicaraan Nenek bersama Mama dan Bunda Anggrek (saudara kembar Mama) tentang intan yang hilang. Intan peninggalan Kakek yang sudah wafat. Nenek ingin mencari intan pengganti ke Martapura, tapi kesehatan Nenek tidak memungkinkan untuk bepergian jauh sendirian.

Qiya tertantang untuk menemukan keberadaan intan tersebut. Dia pun mengajak Risha (saudara sepupu Qiya) untuk bekerja sama. Dia pun mendaulat dirinya sebagai dekektif cilik. Namun, ternyata menjadi detektif itu tidak gampang. Qiya dan Risha harus menemukan petunjuk dan memecahkan misteri itu.

Apakah Qiya dan Risha akan berhasil menemukan intan yang hilang itu? Simak kelanjutannya dalam novel ini. Selamat membaca!

untuk pemesanan silakan SMS/WA ke 0819.0471.5588 atau bisa dibeli di Gramedia dan beberapa toko buku online


18 komentar:

  1. Waaa gitu ya mbak, jadi tahu. Segalanya ada perjuangan yaa....selamat ya mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaak. Alhamdulillah. Jazakillah khairan katsira, Mbak Yekti. Jangan lupa ikut kelas Permen. Hehehe..

      Hapus
  2. Sinopsisnya bikin tertarik .:D Bahasanya ringan dan pasti cocok untuk anakku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak dibeli. Hehehe... Seru lho #promo :D

      Hapus
  3. Barakallah mba Yanti setelah cerpennya yang terus tampil di Bobo sekarang unjuk gigi lagi lewat buku solonya ini keren banget :)
    Beruntung ya mba ada Uni Dian dan pak suami yang terus mendorong hingga akhirnya ini bisa menjadi buku terpampang di rak gramed *aku terharu*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jazakillah khairan katsira, Mbak Herva. Iyaaa. Alhamdulillah banget dikelilingi orang-orang yang mendukung saya. Saya pun suka terharu. Hihihi...

      Hapus
  4. selamat ya Mbak untuk novel anaknya, semoga ada karya kedua ketiga keempat dan seterusnya yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... aamiin.. jazakillah khairan katsira, Mbak Astin :-)

      Hapus
  5. Ada ae ide kalo ditantang buat sekuelnya..insyaAllah.. :D

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Alhamdulillah... makasiiih Kakak :-)

      Hapus
  7. mabruk mb yantii, kereeen..
    semoga yang tertulis menjadi amal jariyah ^_^

    pengen ih, bisa nulis begitu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Rabb. Jazakillah khair mbak Tin. Ayo mbak nulis juga :-)

      Hapus
  8. Selamat ya, Mbak. Semoga terus berkarya. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. jazakillah khair mbak Myra :-)

      Hapus
  9. Jangankan draft novel kak, aku draft tulisan aja banyak dan lama gak dilanjutkan. Huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu pun saya banyak, Mas. Hahaha...

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...