Selasa, 20 November 2012

[Short Story] Perang-perangan ala Ghaza

"Ghaza...!!! Ayo cepat mandi.." pekikku begitu melihat Ghaza masuk rumah dengan pakaian kotor berlumur lumpur. Aku mengikuti langkah kecil Ghaza.

Selang 15 menit kemudian setelah Ghaza selesai mandi, berganti baju dan meminum susu hangatnya aku duduk di sampingnya, menunggu Ghaza bercerita.

"Tadi main perang-perangan bunda." Ghaza meneguk bagian terakhir susu coklatnya.

"Seperti cerita bunda tadi malam, Ghaza jadinya terjun ke parit buat main perang-perangan. Makanya baju Ghaza jadi kotor. Paritnya ga ada airnya kok bunda, tapi penuh lumpur." Ghaza menyelesaikan ceritanya. Aku menghela nafas, tadi malam aku memang menceritakan sejarah Perang Khandaq pada Ghaza. Aku urung memarahi Ghaza.


"Ghaza ingat ga nama perangnya?" kulihat kening Ghaza berkerut. Matanya menatap ke atas, seperti mencari jawaban di langit-langit.

"Perang Handak ya bunda?" jawabnya sambil nyengir. aku tertawa, Ghaza mengucapkan kata "handak" dengan khas logat banjarnya.

"Perang Khandaq sayang." aku mengkoreksi jawaban Ghaza. Dia mengangguk-angguk dan bergumam melafazakan nama perang itu. "tapi Ghaza ingat siapa yang ngasih ide tentang parit itu." cetusnya kemudian.

"Siapa?" tanyaku.

"Salman.... Salman.. " aku tersenyum. Sepertinya Ghaza cuman ingat nama depannya saja.

"Salman al-Farisi." aku melengkapi jawabannya.

"iya itu bunda. Salman al Farisi." cetus Ghaza sambil tersenyum dan kembali bergumam melafazkan nama itu.

"Nama al-Farisi karena berasal dari Persia kan bunda?"

aku mengangguk dan mengusap kepalanya. "iya, anak bunda pinter." sambil mengusap kepalanya aku berdoa. "ya Allah.. jadikan dia anak yang sholeh. Yang mencintaiMu dan RasulMu dengan sepenuh jiwa dan raganya."



***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...