#PostcardFiction : Tak Terganti

    "Jemput aja Fa," Tia, sahabatku memberikan usul. Tia tahu apa yang kupikirkan. Aku hanya menanggapi dengan diam dan memandang benda persegi dalam genggamanku, hanya dengan menekan beberapa tombol di sana aku sudah bisa terhubung dengannya.

    "Ayo dong Fa, jangan ragu gitu," Tia berujar lagi. Ada nada gemes dalam suaranya. Aku menimbang, gelengan di kepalaku kemudian yang menjadi jawaban. Entah gengsi atau mungkin aku terlalu egois sehingga aku tak melakukan apa yang disarankan Tia.

    "Begini deh, kalau kamu tidak menjemput, minimal kasih tahu. Dan bilang kalau kamu ingin dia datang. Sudah dikasih tahu kan?" Tanya Tia lagi bersamaan dengan sebuah lagu mengalun dari laptopku, Semoga kau datang-nya Sherina seakan menyuarakan isi hatiku.


    "Oke. Terserah kamu deh Fa. Aku hanya nggak ingin kamu nanti nyesal," Tia menepuk bahuku lembut dan beranjak meninggalkanku. Menyesal? Kata itu kemudian membuat aku menimbang lagi. Pandanganku kembali jatuh pada benda persegi yang tadi kutaruh begitu saja.

    'Putuskan sekarang Rifa!' Diriku memerintahkan. Dengan satu gerakan aku sudah menggenggam benda persegi itu, menekan beberapa nomor yang sudah kuhafal di luar kepala. Aku bersicepat agar tak meragu lagi dengan keputusanku. Bunyi nada panggil membuat gemuruh di dadaku semakin menjadi.

    "Halo," suara di seberang sana menggantikan bunyi nada panggil. Aku langsung mengenali suara itu.

    "Maukah datang di acara wisudaku?" Aku bertanya tanpa basa basi. Ada suara desahan nafas yang kudengar. Nafasku serasa tertahan menunggu jawabannya, genggamanku terhadap benda persegi yang kini menempel di telingaku semakin erat.

    "Tentu saja Rifa. Kapan?" Ada sesuatu yang kunamai lega menyusup cepat di hatiku mendengar jawabannya.

    Aku ingin dia datang sebagai pendamping wisudaku. Walaupun gelar sarjana yang telah kuraih tak seperti inginnya. Hubungan kami juga sempat memburuk karena keputusanku mengambil jurusan yang kini telah kuselesaikan. Tapi takkan pernah ada yang bisa menggantikan tempatmu, Ayah.

7 komentar

  1. Hiks, haru

    Yanti, dikalimat 'putuskan sekarang rifa!'
    Tanda petiknya single kayaknya ya yan?

    Maap, sambil2 belajar nih
    Kalau dalam tanda kutip diakhiri koma (,) huruf selanjutnya masih kecil. Sepertinya itu kmrn di wikipedia blg gt. Gara2 bikin cerpen asuransi jadi tau hihihi...

    CMIIW ya yanti ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu tanda kutip single karena suara diri sendiri gitu mbak... Ynt pernah baca di novel siapa gitu kalau suara hati pakai tanda kutip single. Tapi ntar cari tahu lagi deh. Kali aja yang nulis novel juga salah ya. hehehe...

      Tanda kutip diakhiri koma emang huruf kecil mbak. Tapi itu kan sehabis tanda koma nama orang (Tia), jadi tetap huruf besar :D Yang lain huruf kecil aja kan mbak? Hehehe... CMIIW juga ya mbak.. masih belajar juga. Thanks mbak Indri buat masukannya :D

      Hapus
    2. Okidoki yanti, dicatet nih pelajarannya ;)

      Hapus
    3. sama2 belajar ya mbaaaa.... CMIIW pastinyaa...

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^