Ketika RINAI Menjawab

    Aku menatap gadis cantik di sampingku tanpa berkedip. Sadar karena aku memperhatikan, dia mendongak dan tersenyum ramah padaku. Senyum yang terukir di wajahnya membuat kecantikannya semakin sempurna di mataku. Hidung mancung, mata yang menawan dengan bulu mata lentiknya, wajah putih bersih dengan gurat khas arabia kudapati di wajahnya. 

    "Where are you come from?" Tante yang sebelum gadis itu datang ada di sampingku bertanya. Beberapa saat lalu, gadis cantik itu menepuk pelan pundakku. Dengan bahasa yang tak kumengerti dia berujar sesuatu. Bahasa isyaratnya lebih kupahami, dia meminta tempat di sela aku dan tante, untuk dapat mengikuti shalat ashar berjamaah. Masjidil Haram menjelang 10 Dzulhijjah sangat padat.


    "Filistin." Gadis cantik itu menjawab pertanyaan Tante.



    "Pakistan?" Tak jelas dengan jawabannya, aku memastikan lagi.

    "No. Filistin. Al-Quds." 


    "Oooo..." Aku dan Tante serempak membulatkan mulut kami. Sekali lagi aku menatap wajah cantiknya yang begitu purna di mataku. Jawaban Palestina yang dia berikan membuat pikiranku melanglang buana. Ingat aksi yang pernah kuikuti saat masih berstatus mahasiswa dulu, aksi pertama di mana aku berdiri di tepi jalan. Teringat akan selebaran, artikel, esai, cerpen dan tulisan-tulisan yang pernah kubaca akan negeri itu. 


    Seperti apakah kehidupan di sana yang dijalani gadis cantik ini? Aku ingin sekali bertanya banyak hal padanya. Keterbatasan bahasa menjadi penghalang utama. Iqamah yang berkumandang lantas membuat jutaan jamaah serentak berdiri. Usai shalat, gadis cantik itu gegas berkemas dan meninggalkan kami setelah mengucapkan terima kasih dan berjabat tangan.


    Tanya yang bergelayut dalam pikirku, tak kunjung terlontarkan dan tentu saja tak ada jawaban saat itu. Bertahun kemudian aku menemukan gambaran tentang kehidupan di sepetak tanah di ujung dunia sana. Lewat sebuah novel berjudul RINAI.


***


    "Aku mimpi ular." Sepasang bola mata seseorang yang ada di depanku berpendar. Sekejap kemudian, ada keusilan yang kutangkap di matanya.


    "Cieee... Yang mau nikah." Aku tertawa mendengarnya. Entah darimana asalnya aku sudah tau semenjak dulu, seorang gadis bermimpi ular katanya ada yang mau melamar. Jodohnya sudah dekat.


    "Aku pernah mimpi ular sejak Aliyah. Itu bertahun-tahun yang lalu. Dan sampai sekarang aku juga belum menikah." Aku dan seseorang di depanku tertawa bersama. Bertahun-tahun kemudian aku menemukan jawab akan pertanyaan yang tak juga kulontarkan lewat lisan. Mimpi tentang ular. Pertanda apakah itu? Penjelasannya kemudian kutemukan pada sebuah novel berjudul RINAI.



***

Tadinya ditulis sebagai pengantar sebuah review. Tapi sepertinya kepanjangan :D
Gregetan ga bisa buku wordpress.....



Review Rinai ada di sini : https://coretanyanti.wordpress.com/2013/06/27/rinai-novel-tentang-gaza-yang-dibalut-ilmu-psikologi/

2 komentar

  1. oalah klo mu baca reviewnya di wordpress yah.. baiklah hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iya mbak. Kumpulan review di wordpress :D

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^