Selasa, 24 Mei 2016

Kata 'Cerlang' dan Resensi Sang Penakluk Kutukan di Tribun Kaltim

Membaca adalah sarana menemukan kosakata baru, begitu yang pernah saya ceritakan di sini, dalam sebuah postingan yang berjudul Menemukan Kata-kata. Beberapa waktu yang lalu saat membaca, saya menemukan kata baru yaitu cerlang. Penasaran dengan kata tersebut, saya pun mencari di KBBI apa artinya.
Cerlang

Cerlang artinya cahaya terang, mencerlang artinya bercahaya atau berkilau, kecerlangan artinya keindahan atau keelokan. Seperti biasa agar saya bisa mengingat kata tersebut, maka saya akan menggunakannya. Saya gunakanlah kata tersebut dalam sebuah resensi untuk buku Sang Penakluk Kutukan karya Arul Chandrana pada kalimat “Tentang kebencian yang membutakan yang menutupi kebenaran walaupun kebenaran itu begitu cerlang di depan mata.” (Idih, boros kata ‘yang’)


Entahlah apa kalimat itu pas dengan kata cerlang atau tidak, yang pasti saya senang bisa menggunakan kata tersebut. Xixixixi… Resensi ini dimuat di harian Tribun Kaltim pada tanggal 22 Mei 2016. Berikut adalah resensinya. Happy Reading ^_^
 
Resensi Sang Penakluk Kutukan di Tribun Kaltim
Mengambil Pelajaran dari Sang Penakluk Kutukan
Oleh : Hairi Yanti

Membaca sebuah karya fiksi bukan hanya menelusuri cerita baru yang ditulis sang pengarang. Tapi lebih dari itu, membaca sebuah karya fiksi adalah bagaimana kita mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah yang dituturkan. Begitu pula saat membaca sebuah novel yang berjudul Sang Penakluk Kutukan.

Novel ini mengambil latar tempat di Pulau Bawean, sebuah pulau yang terletak di laut Jawa dan termasuk wilayah kabupaten Gresik. Ranti, gadis kecil yang lahir dan besar di desa Kumalasa, salah satu dari desa kecil dari banyak desa kecil lainnya di pulau Bawean menjadi tokoh utama dalam cerita ini.

Ranti hidup bahagia bersama kedua orangtua yang sangat menyayanginya, emak dan rama yang selalu memberikan suri tauladan yang baik buat Ranti. Namun, kebahagiaan Ranti di rumah tidak dia rasakan di sekolah. Di sekolah, Ranti menerima perlakuan tak adil dari salah satu Guru, juga cemoohan dari teman-temannya yang menganggap kalau ayahnya Ranti yang biasa dipanggil Ranti dengan panggilan Rama adalah seorang dukun.

Rama Laklang, ayah Ranti, adalah seorang herbalis. Seseorang yang mengobati keluhan penyakit dengan cara mengambil manfaat dari tumbuh-tumbuhan di alam. Ketika Rama Laklang mengetahui kalau anaknya kerap di-bully di sekolah karena pekerjaannya, Rama Laklang memberikan nasehat pada Ranti untuk jangan pernah menyetujui hinaan orang lain. Jika runtuh karena hinaan orang, itu sama saja dengan membenarkan hinaan orang yang menghina.

Sementara itu, di kampung tempat Ranti ada satu cerita tentang seorang makhluk yang dikutuk yang terusir dari desa sepuluh tahun yang lalu. Satu sosok yang memiliki wujud seperti manusia, akan tetapi sosok itu sama sekali tidak tampak seperti manusia pada umumnya karena tampak menyeramkan. Selain sosok itu, ada juga satu anak kecil yang selalu menyertai sosok yang menyeramkan tersebut. Dua makhluk itu bernama Akdong dan Aknang

Cerita tentang Akdong terus saja berkembang di perkampungan itu dengan dilebih-lebihkan. Seperti Akdong yang memiliki ilmu hitam sehingga kutukan ilmu itu membuat tubuh Akdong hancur lebur. Lewat ramanya, Ranti mengetahui cerita sebenarnya tentang Akdong dan Aknang, bahwa tidak ada ilmu hitam yang dimiliki Akdong. Akdong pun disebut Rama Laklang terkena penyakit Lepra, bukan penyakit kutukan.

Suatu hari saat pergi bersama ibunya ke hutan, Ranti bertemu dengan Aknang. Ranti memberikan Aknang pisang juga roti kering yang baru sekali itu dirasakan Aknang. Aknang gembira, Aknang pun memberikan kepada Ranti beberapa kuntum bunga. Yang membuat Ranti terkejut adalah bunga itu ternyata bunga yang diperlukan ayahnya untuk.membuat ramuan obat untuk ayahnya Hekma, sahabat Ranti. Maka bahagia sekali Ranti menemukan bunga tersebut. Ayahnya Hekma pun bisa sembuh, Ranti bahagia melihat Hekma bergembira karena kesembuhan ayahnya.

Setelah kejadian tersebut, Ranti semakin sering pergi ke hutan dan bertemu Aknang. Namun, hutan bukan tempat yang diisolasi dari desa. Pertemuan Ranti dan Aknang pun akhirnya diketahui oleh warga desa. Warga yang menganggap Aknang juga Akdong adalah kutukan membuat sesuatu yang buruk pada Ranti dan keluarganya. Suasana mencekam pun merasuki hati Ranti sekeluarga. Ranti dan keluarga mendapat serangan fitnah yang tidak bisa dikendalikan lagi.

Sang Penakluk Kutukan banyak membawa pelajaran buat pembacanya. Ia tidak hanya memperkenalkan salah satu tempat yang jarang dijadikan latar dalam sebuah novel tapi juga banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran setelah membacanya. Tentang rasa iri yang membuat perlakuan tak adil oleh seorang guru kepada muridnya. Tentang kebencian yang membutakan yang menutupi kebenaran walaupun kebenaran itu begitu cerlang di depan mata.

Dalam novel ini kita juga bisa melihat betapa yang namanya fitnah itu sungguh kejam, lebih kejam dari pembunuhan. Sang Panakluk Kutukan juga membuat kita seperti disentil agar tidak menyebarkan sebuah berita yang belum tentu kebenarannya. Apalagi jika cerita itu berjalan dari mulut ke mulut dan pada akhirnya cerita menjadi sama sekali berbeda dengan kebenaran yang terjadi.
***
Data Buku :
Judul               : Sang Penakluk Kutukan
Penulis             : Arul Chandrana
Penyunting      : Triana Rahmawati
Penerbit           : Republika
Tebal Buku      : viii + 289 Halaman
ISBN               : 978-602-0822-18-1
Tahun Terbit    : Cetakan I, Februari 2016


***

18 komentar:

  1. jadi cemerlang itu sudah diberi sisipan ya, bisikin spoiler endingnya bu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bisikin spoilernya nanti ga seru lagi. Hehehe....

      Hapus
  2. bagus banget resensinya mbak.. hhee
    pantas saja tadi saja cukup penasaran. itu typo atau bagaimana? ato emang sharusnya cemerlang hhee
    mkasihh utk informasi ttg cerlangnya ya mbak hhee

    BalasHapus
  3. Bukannya kata yang pas untuk kutipan kalimat Yanti itu justru cemerlang (seperti yang biasa digunakan), menurut KBBI di atas? Kalau cerlang untuk penyebutan bendanya "cahaya terang." Selamat ya resensinya dimuat lagi di Koran.

    BalasHapus
  4. Duh,
    Aku tahunya cemerlang...
    Misalnya senyum si kapten terlihat begitu cemerlang dan mampu menyinari hatiku yang rapuh halah..

    Wah, kereeeen resensimu masuk koran, selamat yah!

    BalasHapus
  5. resensinya bagus banget deh...
    selamat mbak Yanti...
    sekali menulis bisa ditulis di koran dan di blog juga

    BalasHapus
  6. keren kak resensi korannya

    BalasHapus
  7. Cerlang itu obyek/subyeknya, kalo cemerlang itu sifatnya ya?

    BalasHapus
  8. Mbak ini resensi ini khusus ya? untuk anak?atau genre tertentu? caranya gimana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh buku apa saja, Mbak. Yang saya lihat begitu. Ada buku anak, dewasa, non fiksi, fiksi. Ayo coba kirim juga, Mbak.

      Hapus
  9. Nyimak :)
    Jadi pengen ke Bawean...

    BalasHapus
  10. Sebenernya aku udah dengar kata "cerlang" sejak kecil, karena ada di lagu anak-anak. Tapi udah dewasa malah gak pernah dengar lagi. Selamat Yantiii...masuk media lagi. Keren euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yanti baru dengar, Teh. Hihihi... Makasiiih, Teteh :D

      Hapus
  11. Asslm. Salam kenal. Mantap, Mbak. Kreatif terus. Boleh tahu alamat email untuk kirim resensinya. Terima kasih banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleeh. emailnya red.minggu@gmaildotcom

      Hapus
  12. Asslm, salam kenal, Mbak. Mantap! Keren! Bisa tembus media. Boleh tahu alamat email untuk mengirim resensinya, Mbak? Tks byk sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf baru balas. Emailnya red.minggu@gmaildotcom

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...