Catatan Final Piala Thomas 2016

Sebenarnya saya hanya ingin menuliskan Catatan Final setelah menulis Catatan Perempat Final dan Catatan Semifinal kalau Indonesia juara. Tapi, nyatanya saya tidak bisa menahan jemari saya untuk menulis Catatan Final. Biarlah, karena saya memerlukan menulis untuk menterapi hati yang sedang sakit ini.

Seperti yang sudah kita ketahui, kita, bangsa Indonesia harus lebih bersabar dari Cinta. Jika, Cinta menanti Rangga selama 14 tahun, maka yang kita perlukan untuk menanti Piala Thomas kembali ke Indonesia lebih dari 14 tahun. Yah, hari ini, Indonesia belum berhasil memboyong Piala bergengsi itu ke tanah air. Untuk pertama kalinya, Piala Thomas terbang ke benua Biru.

Hey, kalian pikir Cuma kalian yang mau ke Eropa? Piala Thomas pengin juga kali… Relakanlah… Relakanlah… *Ngomong sama diri sendiri*


Jika yang menonton pertandingan tadi siang sampai sore, pastilah sudah mengetahui, Denmark unggul 3-2 atas Indonesia. 2 angka Indonesia disumbangkan oleh 2 ganda putra. Sedangkan di nomor tunggal putra, semua direbut Denmark.

Sebenarnya hal ini sudah diperhitungkan beberapa pihak. Kekuatan Indonesia hanya bertumpu pada ganda, sementara tunggal putra, di atas kertas Denmark lebih unggul, secara rangking dunia, juga pengalaman. Waktu pertandingan berlangsung tadi saya sampai unfollow salah satu pengamat bulutangkis yang terus-terusan mengajak para follower-nya untuk bersikap realistis. Seperti menyiapkan mental buat kalah. Huhuhu… Saya tidak suka, walaupun begitulah kenyataannya.
Tim Thomas Indonesia

Si pengamat yang saya unfollow tadi menyebutkan, kalau Indonesia memang akan unggul di ganda, sementara di tunggal menanti sebuah keajaiban agar bisa menang dari Denmark. Masalahnya adalah nomor yang dipertandingkan adalah 3 untuk tunggal dan hanya 2 untuk ganda. Kapan-kapan kalau saya jadi ketua BWF, saya ubah deh peraturannya. Wakakakak…..

Jadi, bagaimana perasaannya para BL setelah deg-degan berhari-hari?
Sedih?
Kecewa?
Sakit hati?
Butuh bahu untuk bersandar?

Jika jawabannya, ya, yakinlah Anda tidak sendiri. Hahaha… Ada ribuan atau jutaan BL yang merasakan hal yang sama. Mari kita saling menguatkan.

Tapiii… Benar apa yang dikatakan Mbak Shabrina WS, bahwa pil pahit kekalahan yang kita telan tidak lebih pahit dari yang ditelan China, Jepang, Korea, dan Malaysia.

China, mereka tuan rumah lho. Dengan kekuatan yang merata pada semua sisi dan target tentunya bisa bersanding dengan Piala Uber. Mereka harus menurunkan mimpi itu sejak di perempat final. Coba gih terbang ke China dan tanya Chen Long gimana sakitnya,

Jepang, mereka juara bertahan. 2 tahun yang lalu Piala Thomas mereka angkat tinggi-tinggi dan di perempat final juga lah mereka harus memumupuskan mimpi tersebut. Entah apa yang dilakukan Kento Momota saat timnya bertanding dan kalah.

Korea, tim Thomas negeri ginseng itu bertarung habis-habisan mengalahkan China untuk melaju ke babak semifinal. Jika melihat pertandingan mereka, maka kita akan tahu betapa habis-habisan Korea berjuang hingga akhirnya bisa menang. Kemudian belum 24 jam setelah bertanding dengan China, mereka harus menghadapi Indonesia dan kalah. Coba kasih tiket buat saya ke Korea, biar saya tanya ke Yong Dae bagaimana sakitnya. Kalau enggak bisa ketemu Yong Dae, ya, jalan-jalan aja sih saya ke Korea. Wkwkwk…..

Malaysia adalah tim yang dihadapi Denmark di semifinal. Posisi mereka sudah di atas angin setelah unggul 2-0 dari Denmark. Kita pun sudah membayangkan bagaimana berhadapan dengan jiran kita itu. Saya malah udah ngeri duluan kalau istilag G****** M****** keluar lagi. Heuheu… Tapiii… ternyata Denmark berhasil memupuskan impian Datok Lee Chong Wei untuk berlaga di final.

Jadiii… Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang selain berlapang dada. ‘Kau harus bisa…  berlapang dada… Kau harus bisa.. Bisa… Ambil Hikmahnya’ #terSheilaOn7

Saat di sini kita lelah dan merasa sedih, mungkin di sana para pemain yang berjuang di lapangan lebih sedih lagi. Ini memang waktu terbaik buat Ahsan dan Hendra untuk mendapatkan Piala Thomas, tapi adik-adiknya harus mematangkan teknik dan mental mereka lagi.
Ihsan, senyum dunk :'(
Kita tentu saja berharap Ahsan dan Hendra bisa bermain lagi untuk Piala Thomas dua tahun yang akan datang, segemilang permainan mereka hari ini. Tapi, jangan lupa, kita masih punya Angga/Ricky, juga Kevin/Markus Gideon yang insyaAllah akan tambah gemilang dua tahun yang akan datang. Begitupun dengan pemain tunggal putra kita yang lain. Barisan F4 tunggal putra andalan Indonesia : Ihsan Maulana, Jonatan Christie, Anthony Ginting, dan Firman Kholik. Firman, kejar teman-temanmu, ya. Juga deretan pemain muda yang hari ini bisa berprestasi di Thailand walau saya enggak kenal siapa saja mereka.

Kekalahan hari ini bukan sesuatu yang akan memadamkan api semangat kita. Tapi justru menjadi pementik untuk kita lebih bersemangat lagi. Iya, kan, Koh Hendra dan kawan-kawan?

Harapan para BL dan harapan kita semua adalah dua tahun lagi Piala Thomas bisa kita rebut dari tangan Denmark. Akan lebih bagus jika bersanding dengan Piala Uber. Fitriani dan kawan-kawan, kalian berjuang juga, ya. Juga Piala Sudirman bisa kita bawa pulang ke tanah air.

Gelaran Piala Thomas 2016 bukan akhir segala-galanya di tahun ini. Di depan mata ada Indonesia Open, sapu gelar, ya, para pahlawan bulutangkis. Dan di tahun ini masih ada Olimpiede Rio yang semoga bisa membuat merah putih berkibar juga Indonesia Raya berkumandang. Babah Ahsan, Koh Hendra, Nitya, Greysia, Praveen, Debby, Butet, Owi, dan Tommy…. Kami pengiiiin emas…. Plisssss…. Semangat selalu.

Terakhir, terima kasih untuk perjuangannya para pahlawan bulutangkis Indonesia. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Semangat selalu yaaaa….


Salam BL yang berusaha kuat dan tegar,


Hairi Yanti

11 komentar

  1. Walaupun sedih ngk pulang bawa trophy ke tanah air yang penting semangat tetap berkobaar. Merdeka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Harus semangat karena masih banyak turnament yang harus diperjuangkan :D

      Hapus
  2. Ah iya sih mbak, kita lebih mending dari Jepang, Korea dan tim lainnya yang kandas duluan. Perlu lebih sabar lagi untuk menunggu momen kita mengangkat trofi Thomas (dan Uber juga) tinggi-tinggi. Biasanya kalah di final itu lebih nyesek karena tinggal selangkah lagi. Jepang dan tim-tim lainnya bakal bilang kalian lebih mending dari kita, tapi kita tetep envy sama Denmark yang juara hihi. Semoga gelaran berikutnya Indonesia yang juara, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Dan harapan membumbung tinggi karena sudah ada di partai puncak ya. Jadi harapan demi harapan setiap hari tersemai. Mungkin kecewanya mirip orang yang mau nikah, udah menjelang akad, trus batal :'(
      Aamiin... Semoga selanjutnya Indonesia juaraaaa....

      Hapus
  3. wah aku bangga ya walau mereka belum menang. Pokoknya super deh tim Thomas Indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem, Mbak. Tetap bangga dan tetap berterima kasih pada perjuangan mereka...

      Hapus
  4. nggak papa lah kalah, yg penying PBSI sudah menyiapkan bibit-bibit pemain tunggal hari ini, mereka pasti akan bersinar suatu saat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar, mereka akan lebih matang secara teknik dan mental dan akan bersinar. Aamiin...

      Hapus
  5. Entah mengapa aku percaya kalau aku nonton mereka pasti kalah. Jadi aku nggak nonton, berani lihat dirimu mencak2 di twitter gara2 Tommy disuruh ngepel. Eeeh kok tetap aja kalah ya? Semoga tetap semangat.

    BalasHapus
  6. Kalau liat indonesia bertanding menang atau pun kalah aku selalu nangis mba, terharu sm perjuangan mereka.
    Minggu depan indonesian open insya allah aku nonton live, meskipun seringnya kecewa, tp selama ada halangan aku selalu setia nonton.

    BalasHapus
  7. Ahaa kemaren juga sempet nonton dan deg-degan. Padahal aku jarang lho nonton pertandingan olahraga. Gara-gara suami yang seharian nongkrongin Final Thomas jadi aja mau ga mau nonton. Deg-degan juga sampai berkali-kali bilang "udah ga usah ditonton, malah kalah ntar" dan ternyata kalah beneran, huhuhu. Padahal udah seneng pas ganda menang terus tapi pas pertandingan terakhir tunggal udah no hope. Suami juga bilang udah pasti kalah karena kekuatannya beda jauh tapi tetep aja sedih karena nonton langsung bukan denger dari orang. Semoga tim bulu tangkis kita tetap semangat dan berjaya. Insyaallah ada prestasi lain di event-event lainnya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^