Rabu, 24 Agustus 2016

[Catatan Olimpiade] Momen Penting di Cabang Olahraga Bulutangkis

            Olimpiade Rio 2016 resmi sudah berakhir. Meski begitu, cerita-cerita seputar Rio masih terkenang-kenang. Belum move on kalau kata orang. Untuk Olimpiade kali ini, saya lumayan mengikuti perkembangannya terutama di cabang olahraga… emm… apalagi kalau bukan bulutangkis. Olimpiade dibuka pada tanggal 5 Agustus 2016, namun untuk pertandingan bulutangkis dimulai dari tanggal 11 Agustus hingga 20 Agustus 2016. Total 10 hari.

            10 hari ketika pertandingan bulutangkis berlangsung adalah hari-hari yang rasanya nano-nano. Manis, asam, asinnya komplit. Harap, cemas, nyesak, sedih, kecewa, bahagia, gembira, deg-degan, semuanya deh. Komplit. Inilah gelaran akbar olahraga empat tahun sekali.


            Sebenarnya kalau bicara tournament, bulutangkis punya banyak sekali tournament kelas dunia setiap tahunnya. Berderet-deret deh dari All England hingga gelaran super series atau grand prix. Tapi, ini Olimpiede, Bung! Yang digelar hanya empat tahun sekali. Sensasinya beda, auranya beda, tekanannya juga pasti beda.

            Untuk bisa berlaga di ajang Olimpiade juga tidak bisa didapatkan cuma-cuma. Setiap negara hanya bisa diwakili maksimal 2 perwakilan di setiap sektor. Tapiiii… Tidak semua negara juga bisa mengirim dua wakil. Hanya Tiongkok yang bisa mengirim 2 wakil di setiap sektor. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku yang akan panjaaaang sekali penjelasannya. Singkat cerita, Indonesia hanya bisa mengirim 10 atlet bulutangkis. Setiap sektor diwakili oleh satu perwakilan dan hanya ganda campuran yang bisa mengirim 2 perwakilan.

            Ada beberapa momen yang masih membekas di pikiran saya tentang Olimpiade ini. Kalau enggak dibagi kok kepikiran mulu ya. Jadi, saya tuliskan saja.

            Momen Paling Nyesak.

            Sebenarnya ada beberapa momen yang bikin nyesak, tapi kalau ditanya yang paling ya inilah jawabannya. Jadiiii, di antara sederet perwakilan Indonesia yang paling saya harapkan untuk membawa pulang medali emas adalah dari ganda putra. Siapa lagi kalau bukan pada pasangan Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan. Padahal kalau mau ditelisik ke belakang, prestasi Ahsan dan Hendra ini agak mundur. Tapi, BL (Badminton Lovers) selalu percaya kalau Ahsan Hendra selalu memukau jika tampil di kancah bergengsi.
Ahsan Hendra
Sumber : IG @king.chay

            Mereka bisa kalah di ajang SS dan SSP. Tapiii… Selalu berhasil juara di event yang penting seperti Kejuaraan Dunia, Asian Games, Super Series Final, atau tampil memukai di Piala Thomas dengan melibas ganda putra nomor satu dunia dengan terlihat begitu mudah. Lalu, bagaimana di Olimpiade? Di fase grup Ahsan Hendra ditakdirkan untuk berada di grup yang tidak mudah. Orang bilang grup neraka karena di sana ada 3 ganda yang ada di top 8 dunia. Walaupun begitu, BL selalu percaya kalau Daddies (julukan untuk Ahsan Hendra) bisa melewati rintangan yang ada.

            Di pertandingan pertama, Ahsan Hendra bertanding melawan ganda putra dari India  Attri / Reddy dan mereka berhasil menang. Pertandingan kedua mereka melawan Endo / Hayakawa dan kalah. Oh… BL merintih tapi masih berharap. Di saat ganda putri dan ganda campuran sudah memastikan lolos ke perempat final, ganda putra Indonesia ini harus berjuang di pertandingan yang kata orang hidup mati. Siapa yang menang, ia akan melaju ke babak selanjutnya. Siapa yang kalah, maka langkahnya di Rio terhenti.

            Dan ini adalah Olimpiade. Hanya terjadi empat tahun sekali. Ketegangan dirasakan pada BL menjelang pertandingan. Termasuk saya -_-. Ketika pertandingan dimulai, saya gelisah sekali. Apalagi ketika di set pertama kalah dan set kedua ketinggalan. Akhirnya saya memilih tidak menonton. Tidak sanggup rasanya melihat Ahsan Hendra menjabat tangan lawannya yang mengemas kemenangan, sementara langkah mereka di Olimpiade terhenti.

            Saat itulah rasanya nyesaaak sekali. Bahkan nyesaknya masih terasa hingga saat saya menulis ini. Pada saat itu, saya sukses gagal membendung air mata. Menangis tersedu-sedu melebihi saya menangis karena menonton drama Korea. Wakakaka….. Walaupun di pertandingan selepas pertandingan Ahsan Hendra itu pemain Indonesia yang lain mengemas kemenangan tetap saja rasanya tidak bisa menghibur hati yang tengah dilanda gulana. Medali emas serasa jauh dari jangkauan mata.
Hendra Ahsan
            Sekarang setelah Olimpiade berlalu, saya pun masih baper kalau melihat duo ganda putra terbaik di Indonesia itu. Saat Owi dan Butet dieluk-elukan sedemikian rupa, mereka mana? Huhuhu… Meski kalah dan bikin kita nangis, tapi Ahsan Hendra sudah sering membuat kita tersenyum dengan memenangkan banyak tournament. Bukan hanya karena kalah, lantas kita melupakan mereka apalagi sampai nge-bully. Oh no…

          Momen Nyesak Part 2

            Ini nyesaknya agak turun kastanya dibanding nyesak pertama tapi tetap aja ya namanya juga nyesak. Setelah semua pertandingan selesai di sektor ganda, maka diadakan drawing untuk menentukan siapa lawan di perempat final sekaligus penentuan pool atlet berada. Lewat drawing ini, jadi tahu kalau menang siapa lawan berikutnya. Dan drawing ini bikin nyesaaak karena mempertemukan ganda campuran Indonesia di perempat final.

            Seperti yang saya ceritakan di sini, hal itu memang memastikan Indonesia punya wakil di semifinal tapiii juga harus kehilangan satu wakil di perempat final. Belum lagi lawan yang menanti adalah Zhang Nan dan Zhao Yunlei, ganda nomor satu dunia. Sementara di ganda putri, pasangan ganda putri terbaik Indonesia Greysia Polli dan Nitya harus melawan ganda Tiongkok Yu Yang dan Yuanting. Kalau lawannya China ini bawaannya serem aja. Walaupun begitu, saya yakin kalau Greysia dan Nitya bisa menghadapi mereka berdua karena melihat permainan mereka di fase grup cukup meyakinkan.

            Sementara itu, drawing para atlet negara Tingkok sungguh enak betul. Jika berjalan lancar, mereka berpeluang untuk menciptakan All China Final di semua sektor kecuali ganda putri. Wuiiiih… Rasanya gimana gitu melihat hasil drawing. Jangankan medali emas, satu medali pun terasa semakin menjauh dari pelupuk mata.

            Pada akhirnya, kita semua tahu… Praveen Debby harus kalah lawan teman senegaranya di perempat final. Greysia Nitya juga kalah melawan ganda putri China di perempat final. Wakil tunggal putri memberikan hasil sesuai dugaan kalah di fase grup, sementara di tunggal putra kalah di perdelapan final. Indonesia hanya menyisakan satu wakil yaitu Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir.
Mereka senyum, tapi lihat matanya berkaca-kaca. huhuhu....

            Momen Kejutan

            Olimpiade selalu penuh kejutan. Atlet terbaik sedunia berkumpul dengan satu tujuan yaitu medali emas. Tapiii… Medali emasnya cuma satu. Pada rebutan dunk, eh, pada berjuang habis-habisan. Kemudian satu per satu unggulan berguguran. Dimulai dari… hemmm…. Apa mau dikata kalau kata Bung Bruto Happy, Ahsan Hendra adalah pasangan unggulan pertama yang harus kalah (baper lagi). Di sektor tunggal putri, unggulan dari India, Saina Nehwal, membikin kejutan dengan harus gugur juga di fase grup. Belakangan diketahui kalau ia mengalami cedera.

            Hari berikutnya semakin banyak lagi kejutan yang terjadi. Atlet tunggal putri andalan Thailand, Ratchanok Intanon harus menyerah kalah di tangan pebulutangkis Jepang, sementara pasangan ganda putra nomor satu dunia asal Korea Lee Yong Dae / Yoo  Yeng Son yang digadang-gadang bakal meraih medali emas juga harus menyerah kalah.

            China yang hasil drawing-nya asoy geboy juga ternyata jalannya tak mulus menuju final. Satu per satu wakil negara Tiongkok itu berguguran. Bahkan Tingkok yang menjadi sarang pebulutangkis wanita terbaik di dunia tak mendapat medali satu pun di sektor ganda putri dan tunggal putri. Hal ini malah diperparah dengan cederanya tunggal putri terbaik Tiongkok saat ini Li Xuarei.

            India yang kehilangan unggulan pertamanya Saina Nehwal justru mendapat medali perak lewat tunggal putrid lainnya P V Shindu. Sementara di luar dugaan, ganda putra dari Inggris mendapatkan medali perunggu. Malaysia juga tak kalah membuat kejutan, negeri jiran itu menempatkan 3 wakil di final. Padahal atlet mereka yang menduduki peringkat 10 besar dunia hanya satu yaitu Datok Lee Chong Wei di tunggal putra. Sisanya semuanya di luar 10 besar. Tapi, inilah Olimpiade. Kejutan akan selalu ada.
Sedih lihat ini :(
Datok Lee Chong Wei

            Tentang Malaysia

            Negeri jiran ini layak mendapat perhatian khusus, eh, catatan khusus. Prestasi mereka dalam menempatkan tiga wakil di final layak diacungi jempol. Tentu saja mereka berharap semua mendapatkan emas karena selama pergelaran Olimpiade berlangsung, Malaysia belum pernah sama sekali mendapatkan emas. Sementara negara Asia Tenggara lainnya di tahun ini berhasil memecahkan telur seperti Vietnam dan juga Singapore dengan Joseph Schooling-nya yang fenomenal.

            Di Ganda Campuran, Malaysia gagal mendapat medali emas karena harus mengakui kehebatan Ganda Campuran Indonesia Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Wakil mereka selanjutnya ada di Ganda Putra yaitu pasangan Goh V Shem dan Tan Wee Kiong yang akan melawan ganda putra China Fu Hai Feng dan Zhang Nan.

Pertandingan berjalan sangat seru. Malaysia mendapatkan match point pertama mereka. Bayangkan tinggal satu poin saja maka negeri tetangga kita itu akan mendapat medali emas pertama mereka. Tapii…. Gagal. Match point kedua pun gagal dimanfaatkan oleh atlet Malaysia. Hingga di point selanjutnya, giliran China yang mendapat match point dan mereka berhasil. Pertandingan itu pun dimenangkan oleh China. Kini, harapan emas satu-satunya buat Malaysia ada pada Datok Lee Chong Wei yang berhasil melaju menuju final setelah mengalahkan musuh bebuyutannya, Lin Dan.

            Olimpiade Rio kali ini adalah Olimpiade ketiga Lee Chong Wei bisa masuk ke babak final. Di Olimpiade sebelumnya yaitu di Beijing dan London, Lee Chong Wei hanya mendapatkan perak. Bagaimana dengan Olimpiade kali ini? Saya pribadi ikut berharap agak Datok bisa mendapatkan emas karena Rio 2016 akan menjadi Olimpiade terakhir Datok. Lagi pula, Malaysia menempatkan 3 wakil di final, masa tidak dapat satu emas pun? Nyesak kan ya? Jadi, dukung Datok dapat emas.

            Hasilnya? Datok gagal -_-. Pertandingan dimenangkan oleh Chen Long dari China dan kembali untuk 3 Olimpiade berturut-turut Lee Chong Wei hanya bisa mendapatkan emas. Kebayang nyesaknya. Walaupun sedih, warga Malaysia tetap bangga akan perjuangan Datok LCW.  

            Momen Bahagia

            Bicara tentang momen Bahagia di Olimpiade Rio 2016 apalagi dunk kalau bukan Indonesia Raya berhasil dikumandangkan di Rio. Alhamdulillah… Horeeee…. Senaaaaang. Walaupun di bulutangkis cuma dapat satu medali tapi senaaaaang banget. Satu medali tapi emas gitu loh. Daripada 3 medali tapiiii… eh… Udah ah :p
Medali Emas Butet
Sumber : IG @natsirliliyana
            Jadi, menjelang final Ganda Campuran itu saya merasakan suasana yang adem di antara para BL. Tau dunk ya kalau lawannya negeri tetangga bawaannya suka pada ribut. Malesin deh ngelihatnya. Tapi, menjelang final kemarin saya melihat bagaimana para BL berusaha saling mengingatkan untuk tidak mencaci maki, tidak mendoakan yang jelek-jelek terhadap negara lain. Intinya fokusss aja doa agar Indonesia bisa dapat medali emas.

            Jadi, kalau ada BL yang rada nakal pada diingatkan. Ayo jangan doa jelek nanti doanya balik ke kita. Mari kita jaga pikiran, hati, dan perkataan agar Indonesia bisa dapat emas. Walaupun yaa tidak semuanya bisa dikendalikan karena Indonesia kan penduduknya banyaaak banget. Tapi dari komunitas pecinta bulutangkis yang saya ikuti pada adem, pada saling mengingatkan untuk tidak berkata yang jelek-jelek.

            Setelah kemenangan Owi Butet, saya melihat ada yang masang status katanya Indonesia itu suka mem-bully sama negara tetangga. Perkataannya kasar-kasar. Sementara pihak Malaysia begitu legowo dengan kekalahannya. Hemmm…. Kalau saya lihat tidak bisa digeneralisasi juga semuanya begitu. Karena saya melihat juga banyak kok yang mengapresiasi perjuangan atlet Malaysia. Tidak semua berkata-kata jelek dan kasar. Dan saya juga mendapati kok ada akun dari negara tetangga yang berkata kasar tentang Indonesia. So, jangan digeneralisasi juga. Para BL banyak yang masih menjaga kata-katanya dan tidak berkata jelek. Jadiiii… tergantung oknumnya jugaaa…. Semoga ke depan, kita semua terus bisa menjaga perkataan biar tidak bersitegang mulu dengan saudara sejiran.

            Momen Emosional

            Saya paling suka menyaksikan akhir pertandingan. Momen kemenangan itu sedaaap sekali dilihat dengan catatan bukan atlet Indonesia yang dikalahkan. Hahaha… Kalau atlet Indonesia yang kalah kok enggak tega gitu lihatnya -__-
Gigit Emas
            Selain kemenangan Owi dan Butet, saya paling baper waktu melihat kemenangan Zhao Yunlei dan Zhang Nan pada waktu perebutan medali perunggu yang melawan rekan senegaranya Xu Chen dan Ma Jin. Sebelumnya Zhao Yunlei telah mengumumkan kalau perebutan tempat ketiga di Olimpiade itu adalah pertandingan terakhirnya. Jadi, setelah pertandingan selesai, Zhao Yunlei melambaikan tangan ke arah penonton, seperti salam perpisahan begitu. 

Sementara, Zhang Nan seperti agak canggung menanti salam-salam perpisahan Yunlei. Eh, kemudian mereka tos dan Zhang Nan memeluk Zhao Yunlei dalam waktu yang lamaaaaaa…. Beuh… Berasa nonton drama Korea di ajang Olimpiade. Baper deh saya. Hahaha…. FYI, Zhang Nan dan Zhao Yunlei sempat memadu kasih walau sekarang udah bubaran. Hihihi… Bulutangkis mah gini, selain pertandingan yang seru, kisah romantika antar atlet juga menarik untuk disimak. Begitupun pertemanan mereka di luar lapangan. Di lapangan boleh jadi lawan, tapi di luar lapangan bisa berteman.
Debby Zhang Nan dan Zhao Yunlei
Sumber : IG @debbysusanto
            Daaaan…. Olimpiade pun berakhir. Kalau ada usia, kita akan bertemu lagi dengan Olimpiade 4 tahun yang akan datang di Tokyo, Jepang. Katanya bakalan ada Olimpiade dengan teknologi yang canggih. Jepang gitu loh. Sampai jumpa di Jepang :D          


10 komentar:

  1. Keren ya Mbak...ikut terharu...duuuh gimana gitu perasaan mengharu biru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Terharu. Apalagi kita ga dapat medali emas di tahun 2012

      Hapus
  2. Lengkap dah liputannya. Penuh kebaper-an, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... Baper mulu ya, Mbak :D

      Hapus
  3. Entah berapa kali dibangunin tengah malam waktu ada pertandingan selama olimpiade kemarin..:p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, masa? Kan dibangunin kalau ada pertandingan penting aja... Tapiii... Semuanya penting. Hahaaha.... Olimpiade gitu loh. Siapa katanya mau nonton Fu Hai Feng ternyata tidur :p

      Hapus
  4. Balasan
    1. Wkwkwwkk.... Baper plus cemen. Kalau mau kalah ga berani nonton :p

      Hapus
  5. i lope Indonesia, bangga bgt

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...