Cerita Sang Juara Olimpiade Rio 2016

            Medali di Olimpiade selalu istimewa. Lewat layar kaca, saya menyaksikan bagaimana para negara memberikan sambutan luar biasa kepada atletnya yang berhasil meraih medali. Indonesia juga begitu. Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir disambut begitu luar biasa. Belum lagi hadiah menggiurkan yang menanti mereka. TV pun berebut mengundang mereka.

            Saya dong yang belum bisa move on dari kemenangan mereka, maklumlah rasanya sudah kangen sekali dengan yang namanya JUARA. Setelah gagal di perebutan Piala Thomas juga kegagalan meraih medali di Olimpiade London 2012, raihan medali emas di Olimpiade ini terasa seperti guyuran air segar buat para BL (Badminton Lovers). Jadinya ketika menemukan jadwal live Owi dan Butet di TV, saya pun mengikuti wawancara mereka dari pagi sampai malam.
Emas nih, Kakaks...
Sumber : IG @tontowiahmad


            Interview dengan TV yang berbeda di hari yang sama membuat Owi dan Butet kerap harus menjawab pertanyaan serupa. Saya sampai hafal dengan jawaban mereka karena sebelumnya juga banyak membaca artikel tentang mereka. Pertanyaan dari pihak TV seperti tentang panggilan Butet untuk Liliyana Natsir, cerita seputar pertandingan mereka di Olimpiade, tekanan-tekanan yang dirasakan, dan buat apa hadiah uang bermilyar-milyar yang mereka dapatkan.

            Liliyana Natsir adalah seorang gadis dari Manado. Sementara Butet adalah panggilan untuk anak perempuan dari Medan. Keluarganya sendiri memanggilnya Yana. Asal muasal panggilan Butet ada saat Liliyana mulai merantau ke Jakarta. Saat itu Liliyana masih kecil dan masih terlihat manja juga suka nangis karena kangen rumah. Seniornya di klub yang berasal dari Medan pun bertanya.

            “Nama kamu siapa?” Tanya si senior.

            “Liliyana,” jawabnya.

            “Kepanjangan. Sudah kamu dipanggil Butet saja,” ujar si senior.

            Sebegai junior, Liliyana tidak bisa menolak dan akhirnya cuma menjawab, “Iya, Kak.” Dan kemudian panggilan itu menempel pada Liliyana dan dianggap sebagai nama hoki.

            Owi dan Butet juga menceritakan bagaimana mereka bekerjasama saat dipasangkan menjadi ganda campuran. Tidak mudah menyatukan dua kepala apalagi mereka sempat mengalami paceklik prestasi tapi sekaligus pengin mendapatkan emas di Olimpiade. Saat itulah mereka harus memperbaiki komunikasi. Butet pun mengaku kalau ia harus sering mengontrol emosi dan menurunkan egonya untuk tidak meluapkan emosi berlebihan saat di pertandingan. Lebih sabar dan lebih tenang agar permainan bisa dikendalikan.

            “Harus kompak. Kalau kita tidak kompak atau musuhan sama partner sendiri, musuh kita jadi nambah. Musuhan sama partner juga dua lawan di depan. Jadi, fokus dengan lawan yang di depan dan harus kompak dengan partner,” ujar Liliyana.

            Tentang pertandingan sendiri, baik Owi maupun Butet mengaku kalau lawan berat yang mereka hadapi ada di semifinal Olimpiade Rio 2016 kemarin. Mereka harus melawan ganda campuran nomor satu dunia, Zhang Nan dan Zhao Yunlei. Bukan hanya ganda nomor satu dunia, tapi Owi dan Butet juga punya catatan kekalahan beruntun melawan duo ZZ ini. Namun akhirnya mereka bisa menang melawan ZZ dan melaju ke final.

            Untuk final, di atas kertas, Owi dan Butet sebenarnya lebih unggul. Namun, pertandingan bukan pertarungan di atas kertas tapi di lapangan. Mereka pun tidak ingin takabur dan tetap ingin fokus. Pada akhirnya mereka berdua bisa memenangkan pertandingan dan mendapat medali emas.

            Bonus 5 milyar menanti dari pemerintah ditambah bonus-bonus lainnya. Bahkan salah satu maskapai memberikan hadiah gratis terbang seumur hidup kepada mereka. Wow banget sih… Untuk rencana jangka pendek, Owi ingin umrah bersama keluarganya. Sementara Butet katanya ingin liburan bareng teman-temannya. Arti keluarga juga sangat penting bagi Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir. Walau harus jauh dengan keluarga, mereka berdua tetap melakukan komunikasi dengan keluarga.


Banyak hal lagi yang dikemukakan kedua juara ini dalam wawancara mereka di TV. Pasti roadshow ke berbagai TV ini melelahkan buat mereka, tapi demi berbagi kebahagian dengan masyarakat Indonesia mereka berdua tetap tersenyum saat diwawancara. Ada beberapa tayangan yang di mana saya ketinggalan menonton interview keduanya. Tapi, zaman sekarang masalah seperti itu telah ada jalan keluarnya. Tinggal nonton video rekamannya di beberapa portal online. Emang butuh pulsa atau kouta sih, tapi jika kehabisan ada Berbagai Pilihan Pulsa Online yang bisa dijadikan pilihan. 

7 komentar

  1. Aku suka bagian itu: Musuh kita di depan, bukan di samping kitab😊

    BalasHapus
  2. Senang ya mba lihat pertandingan apalagi kalau Indonesia yang menang....

    BalasHapus
  3. Wah jadi tau sejarah nama Butet setelah baca ini. Jadi kaya informasi deh

    BalasHapus
  4. aku juga bangga sama mereka, inget lagi kecil kalau nonton badminton di tv itu ramai sekali, kita sellau juara

    BalasHapus
  5. Masih belum move on dari olimpiade juga ya Mbak, rasa bangganya belum hilang2. :)

    BalasHapus
  6. Dulu aku BL juga lho, sekarang gak ada waktu buat ngikutinnya. hiks. Deg-degan membayangkan momen kemenangan mereka, nyesel gak nonton live-nya

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^