Sabtu, 02 April 2016

7 Rahasia dimuat di Majalah Bobo

Ada yang bertanya kepada saya tentang apa rahasia supaya cerpen dimuat di majalah Bobo? Pertanyaan yang bikin bingung karena pada dasarnya memang tidak ada rahasia-rahasiaan. Tapi tidak apa-apa deh. Supaya seru, anggap saja ini rahasia, ya. Jangan bilang siapa-siapa. Hihihi...
 
Majalah Bobo
1.   Membeli majalah Bobo dan melahap semua cerpen dan dongeng yang ada di sana.

Ketika saya ingin menembus majalah Bobo dikasih tips begitu loh. Bukan ayo nulis dulu. Tapi beli beberapa edisi majalah Bobo. Kalau tidak bisa beli yang baru, beli aja edisi bekas, begitu pesan Uni Dian Onasis. Mbak Nurhayati Pujiastuti dan Mas Bambang irwanto pun bilang begitu. Dengan membaca majalahnya kita bisa mengenali karakter majalah tersebut. Bisa mempelajari bagaimana cerita yang diinginkan redaksi.


Dengan membaca majalah Bobo, kita juga bisa melihat bagaimana pembukaan cerpen, konflik yang bergulir, hingga ending pada cerpen tersebut. Duluuu... Saya membeli 3 atau 4 edisi langsung. Di Gramedia Balikpapan biasanya ada beberapa edisi Bobo. Karena tidak ketemu bekas,  akhirnya saya beli di Gramed. Agak ragu pada awalnya, tapi suami mendorong saya untuk membelinya. Alhamdulillah... Sekarang balik modal berlipat-lipat setelah membeli beberapa edisi untuk belajar.

2.   Jika tulisan yang dikirim tak kunjung dimuat, cari apa kekurangannya?

Akhir tahun 2013, saya mengirimkan 5 cerpen ke Bobo. 3 cerpen dimuat, 2 yang tidak dimuat. Saya pun membaca ulang cerpen yang tidak dimuat dan ternyataaaa.... Saya salah membidik usia pembaca dan usia tokoh.

Dalam ketentuan majalah Bobo disebutkan kalau masalah cocok untuk anak-anak SD. Sedangkan cerita saya cocoknya untuk anak TK. Hihihi... Saya nulis tentang anak yang belum bisa membaca. Pantas saja tidak dimuat. Jadi mempelajari tulisan yang sudah dimuat itu pentiiing sekali.

3.   Jika tulisan dimuat, pelajari apa kelebihannya.

Masih sama dengan poin kedua. Ketika tiga cerpen saya dimuat di akhir tahun 2014, yaitu Kacamata Pak Rusdi, Tarian Aya, dan Kue Istimewa. Saya pelajari lagi ketiga cerpen tersebut. Saya menyimpulkan kelebihan cerpen itu adalah ada nilai pelajaran yang bisa diambil dari ceritanya. Berdasarkan hal tersebut, saya mengusahakan ada nilai kebaikan dalam cerpen yang saya tulis. Atau bahasa mudahnya ada pesan moral.

Kemudian ketika cerpen saya yang ada unsur kedaerahan atau lokalitas dimuat, saya pun mencoba mencari hal-hal yang berkaitan dengan kedaerahan yang bisa saya jadikan cerita. Tapi, tentu saja sambil mencari hal lain untuk menjadi ide yang unik juga. Tidak berkutat di situ-situ saja idenya.

Bagaimana kalau belum pernah dimuat? Gampang... Pelajari aja yang sudah dimuat, walau bukan karya kita. Hehehe... Kembali ke poin satu ya, beli majalah Bobo. Sampai sekarang saya masih sering membaca cerpen-cerpen di Bobo. Banyak cerpen yang wow, yang bikin saya minder. Tapi dari situ saya belajar.

4.   Membaca, Mempelajari, dan Mempraktikkan Tips dari Nenek

Di Majalah Bobo ada rubrik Klinik Cerita yaitu serial belajar mengarang cerita bersama nenek. Artikelnya tidak panjang. Singkat saja. Hanya setengah halaman. Tapi tips-tips di sana layak kita perhatikan jika ingin menembus Majalah Bobo.

Mengapa? Karena saya beranggapan apa yang disampaikan nenek adalah suara redaksi. Apa yang dikemukakan nenek adalah keinginan redaksi. Nenek berkata cerita yang baik seperti ini dan seperti itu, ikuti saja tips nenek tersebut. Seperti saat nenek bilang berpikirlah dari sudut pandang pembaca, hal yang biasa kita temui, bisa jadi buat pembaca itu bukan hal yang biasa. Tips itulah yang mendorong saya menulis cerpen Mandai, siKulit Cempedak.

Ketinggalan tips-tips nenek di majalah Bobo yang sudah lama terbit? Tenaaang... Kita bisa mengaksesnya di link ini.

5.   Mengikuti Ketentuan dan Syarat dari Majalah Bobo

Syarat dan ketentuan mengirimkan cerpen ke Majalah Bobo pernah saya tuliskan di sini. Jika mau membaca dari sumber pertamanya, sila klik link fanpage Majalah Bobo di sini. Atau saat membeli majalah Bobo di rubrik Apa Kabar, Bo? Ada woro-woro tentang pengiriman cerita.
Ini woro-woro di Majalah Bobo
Semua hal harus diikuti. Bobo mensyaratkan cerpen 600-700 kata untuk cerpen dua halaman dan 250-300 kata untuk cerpen satu halaman. Ikuti saja ketentuan tersebut. Jangan kemudian kita malah mengirimkan cerpen hanya 50 kata atau malah kepanjangan jadi 1000 kata.

Di majalah Bobo disebutkan kalau tulislah biodata di bagian bawah setiap cerita. Turuti saja seperti itu. Setiap satu cerita, di bawahnya ditulis data diri kita berupa nama lengkap, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, alamat rumah lengkap, nomor hape, email, nomor rekening, nomor KTP dan NPWP (bila ada). Jangan menuliskan data diri ini di bagian terpisah dari ceritanya. Khawatir Kakak redaksi susah mencari data diri kita kalau dipisah-pisah.

6.   Mulai Menulis

Sesungguhnya poin satu sampai lima di atas tidak bisa membuat tulisan kita dimuat di Majalah Bobo kalau kita tidak memulai untuk menuliskannya. Yuk ah, mulai menulis.

7.   Mengirimkannya ke Majalah Bobo

Dan poin satu sampai enam juga tidak akan membuat tulisan kita dimuat di Majalah Bobo kalau kita tidak mengirimkannya. Mengirim juga perlu diperhatikan. Di jagad dunia maya beredar alamat email untuk Bobo adalah bobonet itu. Padahal alamat yang sebenarnya untuk mengirim naskah bukan itu, tapi naskahbobo@gramedia-majalah.com

Alamat email itu bukan alamat rahasia lho... Alamat email itu tercantum di majalah Bobo. Coba saja beli majalahnya dan buka rubrik Apa Kabar, Bo? Di bagian bawah, ada tulisan seperti ini.


Jadiiii... Itulah 7  (hal yang sebut saja) Rahasia untuk menembus majalah Bobo yang bisa saya sampaikan. Sampai jumpa di rahasia berikutnya (jikalau ada). Hihihi... 

59 komentar:

  1. nah itu, yg point utama aku blm tuh mbk, bisanya cm baca2 cerpen blogger yg prnh dimuat di bobo, slh satunya baca cerpen dikau mbk..
    tengkiu tipsnya yak, kudu banyak belajar lagi nih daku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Kalau baca di blog2 aja sensasinya beda. Dan kita jadi terpaku sama satu atau dua penulis aja. Kalau di majalah langsung lebih banyak variasinya :D
      Sama2 belajar kita ;-)

      Hapus
  2. Mantap..makasih tipsnya.. Padat dan lugas..mudah dipahami.. Aku ijin ngeshare artikel ini boleh ya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mbak Rita. Dengan senang hati :-) makasih ya, Mbak :-)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Boleh, Yang. Masuknya ke dongeng. Nanti baca2 cerpen Bobo di rumah yaa :-)

      Hapus
  4. kalau aku lebih suka menulis biodata di file terpisah sebenarnya, he he. soalnya biar lebih rapi gitu. jadi aturan yg harus ditulis di bawah cerita itu barusan aja aku tahunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi mb Lia di file terpisah ya? Berarti ga terlalu masalah ya mbak. Karena cerpen mb Lia kan juga ada yg dimuat :D
      Sy selalu di bawah cerita atau tulisan, Mbak. Kirim ke mana aja selalu gitu. Kecuali untuk lomba yg mensyaratkan biodata terpisah :-)

      Hapus
  5. Terima kasih mau berbagi rahasia, Mbak Hairi Yanti :) Bermanfaat banget, nih! Sukses selalu yaaa ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. Mbak Rara.. Ini rahasia yang bukan rahasia sebenarnya. Kan udah sering dikasih tau kakak2 penulis lainnya. Sama2, Mb Rara. Sukses jg buat Mb Rara :-)

      Hapus
  6. Tipsnya mantep nih, Mbak.
    aku pernah kirim cerpen ke Bobo tapi belum pernah dimuat.
    semoga nanti ada kesempatan praktekkin tips ini biar cerpennya dimuat deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Mel. Yuk, mbak, dicoba lagi. Ini sih sebenarnya tips yang sudah sering beredar. Tapi anggap saja rahasia. hehehe...

      Hapus
  7. Wah... jadi pengen coba. Kemarin sudah baca2 tips mbak, tp komentar gagal terus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat ya, Mbak. Yang penting sabar menjalani prosesnya :D

      Hapus
  8. Kalau gagal beli, sering mampir ke perpuskota mbak tuk melahap cerpennya. Tapi, entahlah saya gagal ide sepertinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah... di perpuskota Balikpapan ada ya, Mbak? Dah lama banget ga main ke sana. Terakhir sptnya waktu ada bazar buku :D

      Hapus
  9. jadi inget waktu SD, tulisan saya sering di muat di Bobo tahun 80an

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren, Bu Avy. Tahun 80an saya masih balita :-)

      Hapus
  10. Semoga selalu sukse Mba, saya jadi pengen belajar nulis cerpen hehhe.salam kenal mba ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, Mbak Herva. Yuk mbak. sama2 belajar. Saya juga masih belajar nih :D

      Hapus
  11. Noted, semoga bisa nulis cerpen lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih, Mbak Ila, sudah mampir di sini :D

      Hapus
  12. Wah..ada rahasia yang dibagi-bagi..^^
    Makasiiih mba informasinya.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Arinta. Sebut saja ini rahasia, padahal sih tips ini udah sering dikatakan para senior. hehehe... Saya cuma mengulangnya aja berdasarkan pengalaman juga :D

      Hapus
  13. Masih ada kok Majalah Bobo. Terbit tiap hari Kamis :D

    BalasHapus
  14. Cerpenku pernah dimuat dimajalah Bobo judulnya Kincir Bianglala habis itu aku sibuk terus ngga sempat nulis cerpen lagi..pdhal kangen juga nulis lg
    Ll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... Selamat ya. Judulnya bagus, Kincir Bianglala :D Iyaa. Sering kangen sama nulis ya kalau dah lama ga nulis. Yuk, kita nulis lagi :-)

      Hapus
  15. Waahh Bobo... Bobo majalah pertama aku nih Mba.. Gak pernah ketinggalan baca majalah ini dulu.
    Waktu aku SMA, aku beberapa kali coba kirim cerpen ke majalah remaja. Tapi selalu di tolak. AKhirnya gak pernah lagi ngirim cerpen. Coba tau rahasia ini dari dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu SMA sy ngapain ya? Cuma nulis-nulis curhat di diary aja, Mbak. Hehhee.... Yang penting pelajari tulisan di media yang kita tuju ya. Saya juga baru tau beberapa tahun belakangan :-)

      Hapus
  16. inget waktu kecil duluuu..
    dan waktu anakku masih kecil sukaa banget bacaa2 majalh bobo

    makasih tips rahasianya Mak !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak Nchie. Iya, Mak. Bahkan saya rasanya masih ingat aroma toko buku yang menjual Majalah Bobo waktu saya masih kecil dulu :-)

      Hapus
  17. Makasih tipsnya mba.. saya juga fans majalah bobo waktu kecil..

    BalasHapus
  18. saya bookmark tips2nya ya... siapa tau saya punya keberanian buat ngirim ke Majalah Bobo hehe... Makasih mba Yanti.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Santi. Semoga bermanfaat ya :-)

      Hapus
  19. huwaaaahhh, terima kasih mbaaak sudah berbagi rahasia *ketjup*

    BalasHapus
  20. Makasih ya Bu sarannya, saya jadi bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya. Saya masih SMA, tapi lumayan senang dengan tulis-menulis. Ohiya, kalau saya boleh tau, cerpen Ibu yang berjudul Krayon Apri itu dikirim pada bulan apa, ya bu? Selamat karena sudah dimuat lagi ya buu cerpennya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Nidya. Terus semangat ya. Krayon Apri saya kirim bulan Januari 2015. Perlu waktu 14 bulan sampai dimuat :-)
      Terima kasih ya, Nidya :-)

      Hapus
  21. Makasih loh mbak artikelnya.aku baru baru aja punya minat nulis di bobo, belum ada ide nih.kalo bole tau, itu honornya dikirim berapa lama setelah diterbitkan ya mba? Dan apa kalo kita gatau cerpen kita terbit, kita gaakan dapet honor? Atau honor dikirim secara otomatis?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Honor dikirim biasanya setelah 2 minggu pemuatan, Mbak. Iyaa.. Otomatis kok masuk ke rekening kita. Di pemuatan pertama, biasanya ada konfirmasi dari pihak Bobo buat verifikasi data-data kita. Seperti nomor KTP dan nomor rekening, tapi hanya di pemuatan pertama :-)

      Hapus
  22. Mba aku mo tanya, kalo misal cerpen kita dimuat lagi, kita bakal dikasih tau lagi ndak ya? Kalau ga, ntar kita dapet honornya gimana dong? Apa kalau kita ndak tau kita ndak dimuat, kita ga akan dapet honor kita? Atau honornya terkirim otomatis gitu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hanya di pemuatan pertama biasanya kita dikasig tau, Mbak. Di pemuatan selanjutnya tidak lagi. Honor ditransfer langsung kok ke rekening kita :-)

      Hapus
  23. langsung ngacir ke link-link yang direkomendasikan.. keren euy! jadi mulai belajar bikin cernak. Semoga saya bisa mengikuti jejak mbak yanti *salim*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat ya, Mbak Wiwid. Sama2 belajar kita *Salim balik :D

      Hapus
  24. Sharingnya sangat bermanfaat Mbak, kebetulan istri saya lagi belajar2 nulis. Ya siapa tahu aja nanti bisa seperti Mbak kan? Amin Ya Allah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa bermanfaat ya, Pak. Semoga bisa lebih baik dari saya. Aamiin. Salam buat istrinya ya, Pak :-)

      Hapus
  25. Makasih banyak, ya, Mbak, sarannya. Aku baru-baru ini kirim dua cerpen ke majalah Bobo, karena menulis biodata hanya yang ada di rubrik Apa Kabar, Bo? Aku jadi lupa cantumin no. Rekeningku. Gimana nih mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak apa-apa kalau menurut saya, Mbak. Biasanya di pemuatan pertama pihak redaksi akan menelpon kita. Meminta konfirmasi nomor rekening kita. InsyaAllah honor tak akan ke mana-mana. Bobo amanah soal honor :-)

      Hapus
  26. Waktu kecil aku pelanggan setia bobo. Ketika anak2 kecil pun mereka juga pelanggan setia. Kalau nunggu dpt cucu baru langganan bobo lagi kelamaan kali ya? Heheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihi... Iya, Mbak. Kelamaan. Langganan sekarang aja ;-)

      Hapus
  27. Mba mau tanya nih,kalau misalkan kirim cerpen ke bobo trus caranya kita tahu cerpen kita ditolak bagaimana ya?Apa ada email untuk cerpen tidak layak muat?Makasih :) ,udah baca cerpennya mba di blog ini bagus.*terpesona*kagum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada pemberitahuan, kak. Jadi ya gitu deh.. Sabar aja menanti :-)

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...