Jumat, 18 Mei 2018

Naik Angkutan Umum di Jakarta

TransJakarta


              Sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya untuk naik angkutan umum di Jakarta. Jika mau bepergian, taksi aplikasi atau taksi argo yang menjadi pilihan utama. Bukannya sok kaya alias kebanyakan duit sih, tapi malas ribet dan berpikir kalau Jakarta kota yang asing buat saya. Jadi pengin simpel, abis masuk mobil langsung sampai tujuan dan tak perlu susah-susah buat mantau rute-rute angkutan umum. Begitu…. Tapi itu dulu…

              Menjelang ke Jakarta beberapa bulan yang lalu dan diantar adik ipar ke bandara, saya tanya ke adik ipar bagaimana caranya naik busway atau transJakarta? Karena sebelumnya adik ipar saya emang kerja di Jakarta. Jadi, dia macam gantian aja sama kakaknya (Suami saya) kerja di Jakarta. Sama adik, akhirnya dikasih kartu buat naik TransJakarta. Ya udah deh kartunya saya kantongin dompetin.


              Sampai di Jakarta, tetap dong saya enggan memakai angkutan umum. Sampai suatu ketika di hari minggu, suami mengajak saya ke CFD (Car Free Day). “Yang dekat aja. Di Sudirman sini,” kata suami. Walau malas, tapi saya tetap ikut juga. Begitu keluar dari Jalan Bendungan Hilir, ketemu jalan Sudirman, saya lihat ada busway alias TransJakarta jurusan Ragunan-Monas.

              “Kita naik, yuk. Ke Monas,” celutuk saya ke suami. Suami setuju, dan kami pun ‘mendaki’ halte TransJakarta Bendungan Hilir buat ke Monas. Itulah pertama kalinya naik TransJakarta dan ternyata seruuu. Saya pun ketagihan dan semacam ada kepuasaan tersendiri kala bepergian dengan TransJakarta. Ketika cek satu tempat yang akan dikunjungi pun, kalau dulu saya memantau berapa yang harus saya bayar kalau naik taksi aplikasi, sekarang yang pertama kali saya lihat di halte mana jarak terdekat dengan tempat tersebut.

Semenjak mengalami keseruan naik TransJakarta, saya dan suami juga jadinya banyak jalan pas weekend. Selama tempat tujuan masih dilewati oleh TransJakarta dan tidak terlalu jauh dengan halte, ayo aja jalan terus. Nge-mall pun dari Jakarta Pusat ke Jakarta Barat karena haltenya dekat. Hahaha…

              TransJakarta bukan satu-satunya angkutan umum yang pernah saya coba di Jakarta. Seperti yang saya ceritakan di sini, saya juga berkesempatan mencoba naik Kereta Api Bandara. Di suatu sore yang masih terik, saat mencoba order gocar di tengah keriuhan Tanah Abang dan enggak dapat-dapat, saya dan suami kemudian naik angkot. Hanya bermodalkan angkot bertuliskan “Roxy – Tanah Abang – Benhil” dan akhirnya sampai juga di depan gang indekos saya dengan hanya bayar 4000 rupiah per badan. Buat warga Jakarta mungkin dah biasa, tapi buat saya yang pendatang ini itu menjadi pengalaman pertama. Hihihi…
Dalam TransJakarta

              Suatu hari saya dan suami ziarah ke Kawasan Kalibata, yang dekat situ cuma ada stasiun Kereta Api. Karena belum tau cara naik kereta api, saya dan suami akhirnya nyetop angkot sampai ke Pasar Minggu. Dari Pasar Minggu ada metromini bertuliskan Pasar Minggu – Tanah Abang. Naiklah kami ke metromini itu dan itu adalah pengalaman pertama saya naik metro mini di ibukota dan rada-rada jera sih. Hahaha… Oya, naik metromini dan angkot sama, tarifnya 4000 rupiah.

              Jadi, setelah mencoba angkot, metro mini, bajaj, dan TransJakarta, yang menjadi juara buat saya adalah TransJakarta. Alasannya lebih murah, walaupun 500 rupiah doang sih dibanding metro mini dan angkot. Tapi, TransJakarta pakai AC dan bebas macet. Saya rasanya ingin dadah-dadah ke mobil-mobil yang terjebak macet sementara TransJakarta terus melaju di jalurnya.
Di luar macet, TransJakarta terus melaju

              Sepengalaman saya yang baru sedikit ini, sopir TransJakarta juga terasa lebih santun kala mengemudi, kagak ugak-ugalan. Mungkin di-training khusus kali ya. Plus ada kondektur, eh ini benarkan namanya kondektur, yang berjaga di pintu itu. Petugas yang berjaga di pintu itu juga memakai pakaian rapi seperti seragam dan batik. Kalau petugasnya cewek, saya senang aja lihatnya. Terlihat rapi.

              Naik TransJakarta itu dengan 3500 rupiah kita bisa ke mana aja selama enggak keluar halte. Mau pindah-pindah bus juga bisa aja dengan catatan ya enggak keluar halte. Pernah saya dan suami dapat tempat duduk di bagian belakang, dan pas lagi ramee banget penumpang naik di halte berikutnya. Jadi, ketika sampai di halte tujuan kami, agak kesulitan keluar. Ya udah deh saya dan suami tetap duduk di sana dan ikut TransJakarta sampai ke halte terakhir dan balik lagi ke halte berikutnya. Jadi jalan-jalan deh. Percayalah buat orang daerah macam saya itu juga sangat menarik bisa jalan-jalan keliling Jakarta doang gitu. Buahahaha…
Petunjuk kedatangan TransJakarta di Halte

              TransJakarta juga ada semacam tempat duduk khusus wanita. Jadi, buat kita para wanita bisa duduk ke sana. Namun, ini juga sih yang rada dilema. Beberapa kali saya naik TransJakarta, tempat duduk khusus buat wanita itu kosong. Di tempat umum malah berjubel sampai para penumpang pria berdiri. Sementara ada juga penumpang wanita yang duduk di area umum. Mungkin buat para wanita, pindah aja kali ya ke tempat duduk khusus wanita jika kondisi demikian agar tidak terlalu berjubel di area umum.

              Kekurangan dari TransJakarta, sebenarnya bukan kekurangan juga sih cuma risiko memilih transport ini, adalah kita mesti jalan kaki menuju halte yang bisa saja jauh dari tempat kita. Padahal bagus juga sih membiasakan jalan kaki. Tapi, buat orang daerah macam saya yang jarak dekat suka naik motor, jadi emang agak berasa capek sih pada awalnya. Apalagi kalau haltenya jauh dan tinggi trus muter-muter pulak. Kalau naik taksi aplikasi kan kita bisa naik mobil dari tempat kita dan langsung turun di tempat tujuan.

Walaupun begitu lama kelamaan terbiasa juga kok jalan ke halte dan semacam ada kepuasaan tersendiri naik angkutan umum. Jadi penasaran bagaimana nanti kalau ada MRT dan LRT di Jakarta, walaupun enggak pasti juga sih pada saat itu apa saya masih di Jakarta atau udah balik ke pedalaman Kalimantan. Hahaha… Kalau dibikin kesimpulan, kelebihan dan kekurangan naik TransJakarta ada pada poin-poin ini.

              Kelebihan naik Trans Jakarta :
1.      Murah hanya 3500 rupiah
2.      Pakai AC
3.      Bebas macet karena punya jalur khusus
4.      Kalau dapat tempat duduk atau Trans Jakarta sepi penumpang nyaman sekali

Kekurangan naik TransJakarta :
1.      Mesti jalan ke halte (Ini kekurangan enggak sih?)
2.      Kalau lagi rame ya siap-siap berjubel di dalam bus
3.      Bisa lama menunggu datangnya TransJakarta tujuan kita

Itulah pengalaman saya yang baru dikit sih naik angkutan umum di Jakarta. Kalau teman-teman suka naik angkutan umum juga enggak?


8 komentar:

  1. aku pernah juga naik transjakarta pas jam sibuk. duh lumayan juga penuhnya dan harus berdiri juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Pas jam pulang kerja biasanya penuuuh. Ulun pernah jua berdiri :D

      Hapus
  2. Harus sering cek saldo..takutnya saldo habis dan harus antri 2x buat top up dan masuk halte

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saldo lagi banyak tuh.. Hahaha.. Jalan ke mana kita?

      Hapus
  3. saya malah belum pernah naik trans jakarta, sekali-kali pengen nyobain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo coba. Nanti juga ada LRT dan MRT

      Hapus
  4. 'Mendaki' halte. Bener banget Mba. Kadang suka ngos ngosan ngejer bus yg mau lewat. Naiknya itu lhoo. tinggi bangett

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saya suka ngos-ngosan kalau naik halte TJ. Apalagi kalau sambil lari-lari. Hihihi...

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...