Senin, 08 Oktober 2018

Buku Kedua : Terima Kasih Allah


Akhirnya buku kedua :-)
Terima Kasih Allah karya Hairi Yanti

Setelah buku pertama saya berupa novel anak terbit tahun kemarin, di akhir tahun ini akan terbit buku kedua saya. Masih berupa novel anak, masih di penerbit yang sama yaitu Lintang yang merupakan lini dari penerbit Indiva Media Kreasi. Bedanya? Ya beda di cerita, cover, dan lain-lainnya. Termasuk beda editor. Editor di buku pertama saya pindah divisi jadilah saya dapat editor baru :-)

Buku kedua ini special sekali buat saya, buku pertama juga sih. Hahaha... Ya iya lah sama-sama special, namanya juga jarang nerbitin buku. Jadi tiap momen berasa special.


Latar belakang penulisan buku ini cukup unik. Sebenarnya saya sudah lama ingin menuliskan ide cerita ini dalam bentuk cerita anak tapi yang terpikir oleh saya adalah cerpen. Beberapa kali saya memikirkan alur cerpen untuk ide cerita itu tapi enggak dapat-dapat. Berasa kepanjangan dan belum terpikir juga buat menjadikannya novel.

Suatu sore saya seperti ketiban ide. Sewaktu membaca satu caption di Instagram yang saya lupa apa caption-nya, tiba-tiba saja langsung menyusup begitu kuat di pikiran saya. "Kenapa cerita itu tidak dijadikan novel saja?" Dan seketika itu jalinan cerita dari awal sampai akhir sudah ada di kepala saya.

Saya pun sesumbar kalau novel itu akan segera selesai saya tulis. Saya bilang ke suami kalau saya akan menyelesaikannya dalam satu bulan, jika berhasil saya minta hadiah dari beliau. Suami sih iya-iya aja karena selama ini istrinya memang suka menggebu-gebu di awal kemudian ya gitu deh... Terbengkalai naskah novelnya. Hahaha...

Kenyataannya naskah novel itu tidak saya tulis dalam satu bulan tapi dalam enam hari. Ah, rasanya saat itu saya menulis cepat sekali. Kata-kata berebutan ingin keluar dalam pikiran saya. Sehari pernah saya menulis hampir 20 halaman. Sesuatu yang wow lah buat saya yang moody ini dalam menulis. Senin mulai, sabtu selesai.

Setelah selesai menulis naskah itu, saya mengeditnya dalam dua hari, dan kemudian mengirimkannya ke penerbit. Penerbit yang saya pilih sama dengan penerbit buku pertama saya karena saat menuliskannya saya sudah membayangkan novel itu akan diterbitkan Lintang Indiva :-)

Setelah 3 bulan kalau saya tak salah ingat, editor buku pertama saya mengirimkan pesan di WA. Dia bilang jatuh cinta lagi sama naskah saya. Aaaa... Alhamdulillah, saat itu saya merasa cinta saya dibalas setelah selama ini bertepuk sebelah tangan. Hahahaa... Seperti saya yang jatuh cinta juga pada naskah itu, saya senang sekali ada orang kedua yang juga jatuh cinta pada cerita itu. Semoga selanjutnya banyak pembaca yang jatuh cinta juga pada novel itu ya. Baca deh, insyaAllah banyak hikmah yang bisa kita ambil dari ceritanya tapi tidak menggurui (Boleh enggak sih muji karya sendiri macam ini? Wakakaka...)

Dulu saya pernah bilang, walau fiksi, tapi penulis kerap memasukkan cerita kehidupannya dalam karya yang ia tulis. Sedikit atau banyak. Di novel ini saya berbagi banyaaak cerita kehidupan saya karena memang ini terinspirasi dari kisah nyata. Jadilah karakter-karakternya seperti sangat dekat dengan saya juga jalinan ceritanya pernah saya lewatin dulu :-)

Jadi, mengapa saya bisa begitu cepat menuliskan kisah ini? Ya karena itu... Karena sebagian besar diambil dari kisah nyata :-)

Ada fiksinya? Tentunya ada dong. Sebagian ditulis berdasarkan kisah nyata, tapi sebagian lain hanya fiksi belaka.

Ada banyak adegan yang saya suka di novel anak ini. Salah satunya saat Zira bertanya pada ibunya, "Mengapa Allah tidak mengabulkan doa Zira, Bu?" Ah, itu momen yang special antara Zira dan Ibu.

Zira, tokoh utama di novel itu, orangnya pencemas. Macam saya ini lah suka cemas ini dan itu. Maka, ketika suatu hari ia mencemaskan sesuatu dan curhat ke ibunya, ibunya lantas berkata "Apa yang kamu khawatirkan, Zira?" Dan bla bla bla mengemukakan alasan kenapa Zira tak perlu cemas.

Itu juga adegan favorit saya karena sampai sekarang saya juga kerap kali curhat sama mama cemas ini dan itu. Biasanya mama akan berkata demikian "Apa yang kau cemaskan, Ti?" Dengan terus mengingatkan saya kalau Allah yang Maha Segala dan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Dan masih banyak lagi bagian yang suka di novel itu. Semoga pembaca juga suka. Judulnya Terima Kasih, Allah. Buku ini bercerita tentang seorang anak yang menghadapi takdir musibah yang menimpa keluarganya dan bagaimana ia melewatinya dengan beragam hal yang terjadi bertubi-tubi pasca musibah itu. Ah, jadi ingat anak-anak yang ada di Palu dan Donggala :'(
open preorder

***

Blurb ‘Terima Kasih Allah’ : Liburan Zira seharusnya sempurna. Ia memang tak pergi ke mana-mana, tapi Zira sudah meminjam banyak buku. Dengan buku, ia bisa menjelajah dunia.
Malam liburan tiba, Zira sudah selesai membantu ibu. Ia siap untuk membaca buku dengan santai. Tapi....Teng…. Teng… Teng…Sebuah suara dari luar rumah terdengar keras. Buku yang dipegang Zira terlepas. Jantungnya berdegup. Zira melunglai begitu tahu apa yang terjadi. Satu peristiwa yang membuat banyak hal berubah.
Kejadian itu juga membuat Zira mendapatkan banyak pelajaran di kemudian hari. Tentang arti rumah, tentang doa yang dipanjatkan tapi belum dikabulkan, dan tentang bersyukur. Apa yang terjadi pada Zira di malam itu? Yuk, baca kisah Zira selengkapnya.



2 komentar:

  1. mantaap 6 hari aja nulisnya. kawa dah buka kelas menulis, yan. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi habis itu lawas banar libur nulisnya, ka. Kayak terkuras energi. Hihihi...

      Hapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...