Sabtu, 26 September 2020

Terbang Saat Pandemi

                                   


    Saya merencanakan mudik sejak awal Maret lalu. Namun pandemi, membuat banyak rencana tertunda. Edaran untuk di rumah saja dan tidak bepergian ke mana-mana membuat saya pada akhirnya membatalkan rencana mudik. Begitu pun saat Idul Fitri, untuk pertama kalinya pada lebaran saya tidak mudik ke kampung halaman.


    "Tapi Idul Adha bisa mudik kan?" Tanya mama di ujung sana. Walau hampir setiap hari video call tapi tetap saja ada kerinduan untuk hadir di depan kedua orangtua langsung. Nyatanya, Idul Adha pun saya gagal buat mudik. 


    Awal September, akhirnya saya memutuskan untuk mudik dengan satu syarat dari suami agar saya disiplin menjalankan protokol kesehatan selama di kampung halaman. Saya harus tetap menggunakan masker walau di rumah, jaga jarak, dan makan secara terpisah dengan orang rumah. Saya menyanggupinya. 


    Terbang di saat pandemi tentu berbeda dengan hari biasa. Baru kemudian menyadari, betapa banyak sekali nikmat yang kita abai di hari-hari biasa baru terasa saat pandemi ini. Salah satunya bebas bepergian saat dulu. Sekarang rasanya bepergian penuh keraguan dan kekhawatiran. 


    Jadi, apa saja yang diperlukan terbang saat pandemi : 


1. Pastikan diri sehat

Sebelum mudik saya berusaha sedapat mungkin menjaga kesehatan dan imunitas tubuh. Semua itu demi keselamatan diri juga orang di sekitar kita. Tentu akan menjadi keresahan kan kalau kita batuk di tempat umum di kondisi sekarang. Kalau kondisi kita tidak fit, virus juga akan lebih mudah masuk. Jadi, pastikan diri fit.


2. Cek persyaratan masuk suatu daerah.

Rapid tes non reaktif


    Rapid tes adalah salah satu hal yang penting sekali saat terbang di masa pandemi. Diperiksa mulu di bandara, dari saat masuk, sebelum check in, saat check in, masuk ke ruang tunggu. Begitupun saat tiba di bandara tujuan.


    Perhatikan juga syarat masuk suatu daerah, ada daerah yang memberlakukan persayaratan masuk ke daerahnya tidak hanya sekadar rapid tes non reaktif tapi juga harus pcr swab tes negatif. Seperti kota Surabaya. Per tanggal 21 September 2020, Pemkot Surabaya mengeluarkan surat edaran (SE) terkait upaya memutus mata rantai penyebaran Covid – 19. Surat edaran itu berisi empat poin penting salah satu poin penting tersebut adalah mengimbau warga pendatang / tamu dari luar kota Surabaya menunjukkan PCR / Swab Negatif.


Informasi tempat untuk melakukan  PCR Swab Test Surabaya atau beberapa kota lainnya bisa kita dapatkan di aplikasi Halodoc. Halodoc merupakan aplikasi yang sangat membantu kita di masa pandemi ini. Di masa pandemi ini, kita kan tidak bisa sesuka hati datang ke fasilitas kesehatan karena risikonya lumayan besar. Karena itu lewat aplikasi Halodoc bisa chat dokter, beli obat, buat janji di Rumah Sakit, juga tes covid – 19.


3. Tetap jalankan protokol kesehatan

    Protokol kesehatan apa saja? Sebagian kita tentu sudah hafal kan? Pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer. Di bandara, saat boarding, maupun di dalam pesawat saya usahakan sedapat mungkin melaksanakan protokol kesehatan yang ditetapkan. 

    Di dalam pesawat, saya tidak membuka masker sedetik pun. Untunglah penerbangan yang saya lakukan hanya 50 menit jadi tidak makan atau pun minum bukan hal yang sulit di saat itu. 


4. Mendownload Ehac



    Pada saat check in, kita diberitahu untuk mendownload aplikasi eHac Indonesia atau pernyataan kartu tanda kesehatan untuk setiap pelancong. Pada aplikasi tersebut kita mengisi data diri kita, moda transportasi apa yang kita gunakan, dari mana asal kita dan ke mana tujuan kita disertai tanggal dan jam kedatangan. Saat tiba di kota tujuan, petugas akan men-scan barcode pada aplikasi eHac yang sudah kita isi. 


5. Jalankan isolasi mandiri demi keselamatan bersama

    Sampai di kampung halaman, saya menginap di rumah orangtua. Saya berusaha menjalankan protokol kesehatan. Walaupun di dalam rumah, saya selalu menggunakan masker dan menjaga jarak. Untuk tidur saya juga menggunakan kamar tidur sendiri, kalau dulu suka nimbrung tidur sama ponakan atau gegeloran di kamar mama yang selalu terasa nyaman. 

    Makan pun saya akan mengambil makanan secukupnya buat saya, kemudian makan secara terpisah. Kalau dulu kan suka bareng-bareng, sambal misalkan dicocol bareng-bareng, minuman saling icip. Sekarang di masa pandemi tidak bisa seperti dulu lagi, apalagi saya yang ibarat kata statusnya Orang Dalam Pantauan yang baru datang menempuh perjalanan naik pesawat. 

    Walaupun rapid tes non reaktif, tapi berhati-hati dan waspada tetap harus dijalankan. Itu pun saya dihantui perasaan cemas dan khawatir kalau dalam 14 hari ada keluarga yang demam, batuk atau flu. Alhamdulillah setelah 14 hari semua keluarga sehat walafiat. 



    Itulah pengalaman saya terbang di masa pandemi ini. Sebenarnya berat sekali memutuskan untuk bepergian, tapi mama yang kerap kali mempertanyakan kapan saya mudik dan beliau bilang mau ini dan itu kalau saya mudik membuat saya mengambil risiko perjalanan tersebut. Saat saya datang pun mama terlihat tersenyum terus yang membikin saya terharu melihatnya. Saran saya buat teman-twman yang lain, kalau enggak pentiiiiing sekaliii tundalah perjalanan. Ngeri aja sih karena di pesawat lumayan banyak penumpang yang batuk. Hiks. Jika memang terpaksa harus melakukan perjalanan, tetap ikuti protokol kesehatan sedisiplin mungkin. 


1 komentar:

  1. Terbantu banget ya dengan adanya aplikasi khusus pelancong ini. Ditambah kemudahan akses kesehatan di halodoc. Bantu banget buat yang harus bepergian karena urgent tapi ga bikin khawatir

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...