Resensi Buku Terima Kasih Allah di Jateng Pos


Hari minggu kemarin ada resensi novel kedua saya Terima Kasih Allah di Jateng Pos. Jadiii... novel Terima Kasih Allah ini ide ceritanya terinspirasi dari kisah nyata yang saya alami. Terinspirasi lho ya, bukan kisah nyata sepenuhnya karena dalam penulisannya ada unsur fiksi yang saya masukkan atau dengan kata lain ada yang saya karang-karang. Hahaha...


Di buku tokohnya bernama Zira, di kejadian nyata saya bukan Zira. Di buku diceritakan Zira punya satu abang saja, sementara saya punya dua abang. Di buku Zira kelas 5 SD, sementara saat kejadian itu saya alami saya duduk di kelas 1 Madrasah Tsanawiyah.

Kenapa jadi usianya 'turun' ke kelas 5 SD? Supaya sesuai dengan target pembaca yang dibidik penerbit. 

Tapi beberapa hal memang seperti apa yang saya alami, misalkan ayah di buku ditulis dulunya adalah mantan sopir angkot, abah saya juga dulu adalah sopir taksi Barabai - Banjarmasin 😃 kemudian menjadi penjual spare part mobil. Deskripsi rumah yang saya tuliskan, sebagian terinspirasi dari rumah kayu tempat saya dilahirkan, pun dengan beberapa kejadian, ada yang mengacu ke cerita nyata. 

Kejadian di novel tersebut terinspirasi dari musibah kebakaran yang terjadi di Barabai pada tahun 1998. Warga Barabai mungkin masih ingat dengan kebakaran besar yang besoknya menjadi headline Banjarmasin Post dan beritanya terus ada berhari-hari setelah kejadian. Sampai-sampai kakak saya pun ikut masuk koran ketika menyampaikan kritiknya terhadap kurangnya armada Pemadam Kebakaran di Barabai (Alhamdulillah sekarang armada Pemadam Kebakaran di Barabai sudah menjamur). Potongan koran yang memuat komentar kakak saya itu pun dikliping dan ditaruh di album foto dan masih ada sampai sekarang. Hahahaa.... (Kemudian kepikiran mengkliping dan memasukan tulisan saya di media juga di album foto 😂)

Kebakaran yang terjadi saat itu menghanguskan sebagian rumah di Pasar 1, Pasar 2, ratusan toko di Pasar Lama Barabai, sebagian pasar 3, dan sebagian terminal lama. Pasar lama kemudian dihancurkan total termasuk toko batu dan dibangun kembali menjadi Pasar Murakata. Sementara Terminal Lama dialihfungsikan menjadi Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada). Dan keluarga saya menjadi bagian dari 'sejarah' itu yang coba saya abadikan dalam sebuah novel untuk anak-anak berjudul Terima Kasih Allah. 

Di dalamnya ada pergolakan batin seorang anak ketika pertama kali dalam hidupnya ia merasa tidak punya tempat untuk pulang. Hatinya sesak saat harus bertanya pada ibunya di malam musibah itu "Kita pulang ke mana, Bu?" 

Di novel itu juga ada seorang anak kecil yang enggan pindah rumah setelah merasa nyaman tinggal di rumah keluarganya. Hingga kemudian dialognya dengan ibunya membuat ia menyadari arti rumah sebenarnya. 

Beragam hal pun terjadi yang mengiringi kejadian pasca kebakaran tersebut... sepeda yang hilang, sahabat yang selalu ada juga ikut pergi, buku-buku yang ia pinjam di perpustakaan pun ikut terbakar. Zira bukan anak super yang tabah dan sabar menerima semua itu, ia menangis, ia sedih, ia pilu, dan ia sempat berpikir untuk menggugat dengan bertanya pada ibunya "Mengapa doa Zira tidak dikabulkan, Bu?" Bagaimana jawaban ibu dan bagaimana Zira melewati hal itu? Yuk baca yuk... 😄😄😄

Menulis buku ini memang seperti membuka luka lama tapi saat menuliskannya saya bisa menulis dengan ringan dan terasa menyenangkan. Makanya enam hari juga udah beres menulis satu novel ini 😂 

Di resensi ini Mbak Hana Matsura Ratna memberikan masukan tentang asal usul kebakaran yang tidak saya ceritakan di novel. Saya pun baru kepikiran kenapa ga dimasukin ya. Hahaha... Padahal bisa nambah halaman. Wkwkwk... Tapi mungkin kenapa saya tidak memasukannya karena sampai sekarang saya tidak tahu persis apa yang menjadi penyebab kebakaran tersebut sementara desas desus yang beredar terlalu menyakitkan untuk diungkit 😂😂😂 

Terima kasih resensinya Mbak Ratna dan terima kasih kepada Penerbit Indiva melalui Lintang Indiva yang mau menerbitkan novel ini 😍😍😍😍 

Oya, novel ini bisa dipesan langsung ke penerbit lewat WA +628812806460 pengiriman dari Solo. Bisa dipesan lewat saya pengiriman dari Barabai kalau saya pas ada di Barabai, kalau lagi di Kaltim pengiriman dari Kaltim... Atau bisa juga didapatkan di Gramedia. Semoga sudah masuk Gramedia karena saya cek akhir bulan Desember lalu masih belum masuk Gramedia Balikpapan 😄😄😄

5 komentar

  1. Wah keren banget. Tetap semangat kakak hehe

    BalasHapus
  2. Keren banget kak. Cuma beberapa hari aja udah bisa membikin 1 novel hehe

    BalasHapus
  3. Memang terkadang menuliskan cerita berdasarkan kisah nyata diri sendiri itu lebih mudah ya

    BalasHapus
  4. Wah sepertinya bagus tuh novelnya. Aku jadi pingin membaca novelnya juga nih

    BalasHapus
  5. Keren banget kak. Tetap semangat kak. Jangan patah semangat

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^