Rabu, 18 Juli 2018

Nonton Blibli Indonesia Open di Istora


Sebenarnya memutuskan untuk #NgeIstora tidak sesederhana tulisan tentang Istora, Aku Datang yang saya tulis sebelumnya. Keputusan NgeIstora itu penuh dengan kegalauan. Awalnya saya rasanya tak ingin berangkat, bahkan tak mau ke Jakarta. Saya penginnya ngasuh ponakan saya aja di rumah kakek neneknya alias di rumah abah mama saya sendiri. Banyak hal yang saya pikirkan terkait #NgeIstora itu sendiri. 
Ngeistora

Pertama, saya tidak punya teman. Suami tentunya harus bekerja di hari kerja. Kecuali pada weekend dia bisa menemani saya menonton. 

Kedua, saya tak suka keramaian. Saya ini anak rumahan sekali yang sukanya selimutan di rumah (Hobi : Tidur). Jadi, mungkin yang cocok buat saya adalah nonton di rumah saja lewat layar ponsel. Apalagi saat melihat foto-foto keriuhan Istora, bukan ingin berangkat, malah pengin ngumpet. 


Ketiga, budget. Saya ini tipikal orang yang perhitungan sekali kalau keluar duit, tapi kalau mengeluarkan uang maunya yang bagus sekalian. Hahaha... seperti nonton ini, maunya kelas VIP, ogah kelas dua. Wkwkwk... Suami juga mendukung kelas VIP sih. Dan tiket kelas VIP itu mahal. Untuk semifinal dan final, tiketnya lebih mahal dari tiket pesawat Jakarta – Balikpapan.
Gelang ini mayan juga harganya. Hahaha...

Kegalauan itu akhirnya saya utarakan ke teman-teman di grup dan suami. Suami mendukung saya untuk berangkat saja... nonton saja. Kapan lagi? Katanya. Teman-teman juga jadi kompor. Dan akhirnya saya berangkat.

Awalnya saya hanya membeli tiket R1 untuk dua hari. Selasa dan Rabu. Walaupun diperingatkan oleh Mbak Aty kalau menonton setiap hari itu melelahkan tapi saya tetap membeli tiket R2 dan QF, serta tiket Semifinal untuk menonton bersama suami. Jadilah jadwal saya full dari Selasa sampai Sabtu. Jadwal ngeistora. Hahaha...

Kenapa saya memutuskan menonton tiap hari? Karena rasanya setiap pertandingan tidak ingin saya lewatkan. Di hari pertama saya ingin menonton aksi Fitriani. Syukur-syukur bisa ketemu dan ngobrol (Ga ketemu dan ngobrol sih akhirnya). Pertandingan ini harus hari pertama saya tonton karena Fitri akan berhadapan dengan Ratchanok Intanon dan kemungkinan akan kalah (dan emang kalah akhirnya). Jadi, kalau mau nonton Fitri ya harus hari pertama. 

Saya juga ingin menonton Daddies alias Muhammad Ahsan dan Hendra Setiawan. Hasil draw membuat mereka harus berhadapan dengan Kevin dan marcus. Pertandingan mereka ada di hari kedua babak pertama alias hari rabu. Jadilah saya kudu menonton juga di hari rabu. 

Nah kan.. bingung milih menonton hari apa.

Saat R2 alias babak kedua dan perempat final sebenarnya sudah sangat melelahkan buat saya untuk menonton. Tapiiii.... dua babak itu juga terlalu seru buat dilewatkan begitu saja. Hahaha... Jadi bingung kan mau milih hari apa nontonnya kalau semuanya seru.

Saat hari pertama alias hari Selasa itu bikin capek sekali. Mungkin karena hari pertama jadi tubuh saya terasa kaget duduk berjam-jam di Istora yang penuh gegap gempita. Di hari itu saya juga mencoba menonton dari berbagai sudut. Pindah sana, pindah sini. Dari sebelah kiri, kanan, atas, bawah.

Setelah mencoba berbagai spot, memang yang paling oke adalah menonton di bagian bawah, dekat dengan lapangan, jadi di situlah letak sensasi menonton langsung kan? Saat kita bisa meneriaki pemain, walaupun suara kita entah kedengaran atau tidak di pemain itu. Tapi rasanya menyenangkan saat selesai pertandingan, ketika kita meneriakkan nama pemain trus dia melambai ke arah kita. Hihihi… Bahagianya penonton itu di sana.

Di hari kedua, saya sudah tidak pindah-pindah lagi. Tetap di tempat yang sama. Dan energi saya juga lebih terjaga. Selain itu saya juga menemukan celahnya agar tidak terlalu kelelehan yaitu minum air putih saja, jangan minum air yang lain. Air yang lain, terutama minuman botolan yang banyak dijajakan justru membuat saya terasa lebih lelah dari biasanya. Mungkin saya aja, mungkin yang lain enggak. Hal ini saya temukan di hari ketiga. Suami juga bilang saya terlihat masih segar di hari ketiga itu, padahal di dua hari sebelumnya datang ke kost sudah tepar. Saya bilang, tadi saya cuma minum air putih. Tidak minum air yang lain. Jadi, sebagai penonton, asupan gizi makanan juga perlu diperhatikan agar bisa prima menonton setiap hari.

Pertandingan paling menarik di dua hari itu disponsori oleh Ricky Karanda Suwardi. Di hari pertama, Ricky dan Debby 'jambak-jambakan' dengan atlet ganda campuran China. Suasananya tegang sekali karena skor ketat sampai adu setting di game ketiga. Mbak-mbak di sebelah saya bilang "Aduh, aku pengin ngumpet, aku ga berani lihat." Saat Ricky dan Debby berada di skor kritis. Dan akhirnya penonton gemuruh karena pertandingan itu dimenangkan oleh pasangan Indonesia : Ricky dan Debby. 

Esok harinya, kembali Ricky Karanda Suwardi yang menjadi arjuna dalam pertandingan. Kali itu, ia berpasangan dengan Angga Pratama di ganda putra. Berhadapan lagi dengan He Jiting dari China yang di ganda putra berpasangan dengan Tan Qiang. He Jiting ini di ganda putra lagi pede-pedenya karena pekan sebelumnya di Malaysia ia berhasil mengalahkan ranking 1 dunia : Kevin dan Marcus.

Skor ketat, adu setting di babak ketiga kembali terjadi. Seolah mengulang apa yang terjadi kemarin di ganda campuran. Pelakunya sama pulak : Ricky Karanda Suwardi. Ricky dalam permainannya kali ini terlihat semakin cakep. Permainannya... orangnya ya dari dulu gitu-gitu aja. Hahaha... dan Akhirnya Ricky dan angga berhasil menang saat itu. Istora kembali gegap gempita. 

Setiap hari ada saja pertandingan menarik. Tapi, ketika ditanya sama suami, pada hari apa dan pertandingan apa yang paling menarik, saya menjawab : “Perempat final.” Bukan pada pertandingan Kevin dan Marcus yang penuh drama itu tapi di pertandingan Fajar dan Rian melawan juara dunia Zhang Nan dan Liu Cheng. Itu menegangkan dan seru sekali. Skor akhir di babak ketiga sampai 25-23, sudah menerangkan betapa menegangkannya pertandingan itu.

Waktu pertandingan itu, saat match point digenggam oleh pasangan Indonesia, saya sudah siap-siap ponsel buat merekam winning point mereka. Eh, setelah beberapa kali match point dan gagal mulu, akhirnya saya menyerah. Gugup dan deg-degan itu bukan situasi di mana saya bisa dengan tenang ngerekam. Maka, salutlah saya kepada mereka yang berhati tegar yang bisa merekam detik-detik kemenangan dengan skor ketat itu.

Cerita Istora insyaAllah masih akan berlanjut. Hihihi…. Lima hari nge-Istora membuat saya jadi menemukan tips-tips yang mungkin bisa bermanfaat buat teman-teman yang mau nonton aksi para atlet bulutangkis di Asian Games tak lama lagi.

9 komentar:

  1. Balasan
    1. Hahahaha... asal ada laptop aja lanjut 😂😂

      Hapus
  2. Ya ampuuun, kamu bener2 pecinta bulutangkis ya mba :D. Aku jujurnya ga mengikuti, jd sedikit blank dengan nama2 pemainnya. Tp ntah kenapa kalo ikut nemenin suami nonton ntah dr tv ato lgs, semangat mendukung nya ikutan nular :p. Memang asik kalo nonton begini rame2 sih ato setidaknya dengan orang yg memang ngerti olahraganya :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Iya, Mbak. Sejak 2016 ngikutin banget perkembangan bulutangkis. Dulu sih gitu2 aja nontonnya. Paling kalau ada event gede macam Olimpiade dan Asian Games baru nonton :D

      Hapus
  3. sepertinya seru yah kalo nonton langsung. pernah sekali cmn turnamen sinar mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seruuu. Sekarang ada Asia Junior Championship nih di Bintaro :D

      Hapus
  4. I think the admin of this web page is genuinely working hard for his site, for the
    reason that here every information is quality based data.

    BalasHapus
  5. Harganya beda-beda, Mas. Ada yang kelas 2, kelas 1 dan VIP. Per hari beda. Untui final lebih mahal. Kemarin itu vip hari pertama 100 ribu, pas final.650 ribu. Nanti Asian Games tiketnya pas final 800 ribu. Hehehe... Iya..bisa per hari aja.

    BalasHapus
  6. saya biasanya nonton dilayar kaca,, kayanya kalo nonton langsung pasti seru abis

    BalasHapus

Terima kasih sudah memberikan komentar di blog saya. Mohon maaf komentar saya moderasi untuk menyaring komentar spam ^_^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...